Wednesday, December 25, 2019

Sejuta Doa, Sebuah Penantian - Nia Kurniati





Waktu itu hujan sangat besar.  Bahkan payung tak kuat menahan air yang jatuh menimpanya -tak tertahankan.  Posisi duduk di pinggir jalan, seingatku hari itu adalah hari yang begitu padat.  Tepatnya di hari senin waktu petang.
"Penantian itu ibarat aku menunggu hujan reda.  Mataku akan berkaca-kaca,  sambil doa dalam hatiku terus mengepung perasaanku.  Sebelum reda,  aku akan tetap menunggunya. Walau harus lalui segala uji-Nya.
Penantian itu juga ibarat aku menunggu jalanan kering dari basahnya terkena air hujan. Tapi dari semua penantian yang paling pahit adalah penantian pada suatu hal yang belum tentu adanya kepastian akan kedatangannya.
Aku merasakan Hampa." (Sekitar Dua tahun lalu di Halte bus Alun-alun Bandung).

Kini aku merasakan lagi penantian.  Sampai waktu tak terasa maju begitu cepat.  Penantian pada suatu hal yang belum juga pasti akan kehadirannya.  Sedangkan hanya satu yang pasti, yaitu kematian.
Saat dulu menantikan pasangan, ku percayakan pada Qadar-Nya walaupun semakin hari isak dalam dada. Akhirnya, pada sajadah-lah kembali aku urai air mata.
Dan saat kini aku menantikan kehadiran buah cinta,  ku usahakan jua percayakan pada Qadar-Nya.  Padahal ketakutan yang tak boleh ku simpan dalam hati.  Sebab manusia hanya bisa berencana, tapi Allah yang Berkuasa.  Ku yakin bukan hanya diriku,  tapi banyak perempuan lain yang rindukan kehadirannya dengan perasaan yang sama, mungkin lebih. Namun pada waktunya ada ketetapan terindah yang Allah jaga dan Dia tetapkan buat hambanya.

"It's not befitting for Allah to take a son,  Exalted is He.  When he decrees on offair, he only says to it, "Be", and it  Is."
Artinya, "Tidak patut bagi Allah mempunyai anak,  Maha suci Dia.  Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah,  Maka jadilah sesuatu itu."  Firman Allah dari qur'an surat Favorit penuh kenangan, Qs.  Maryam 19, ayat 35.
Qadarullah merasakan segala proses Cinta indah itu.  Proses menanti si jodoh,  proses jalani ta'aruf dan gagal beberapa kali,  proses melepaskan,  hingga pada proses penantian yang berlanjut ini. Menanti kehadiran karunia dari-Nya.

Betapa indahnyanya penantian saat aku syukuri kenyataannya.  Bukankah cinta-Nya itu nyata?
Ia hadirkan masalah sebagai penguji ketaatan kita.
Ia biarkan kita menunggu,  barangkali agar kita bisa menjadi hamba-Nya yang Penyabar.
Sudah berapa lama tumbuh bersama Penantian?
Bisa jadi Allah tengah menggenggam sesuatu yang akan diberikannya kepada kita, yaitu hadiah paling indah.
Berbekal sabar,
Berbekal ridho,
Ikhlas
Syukuri saja.  Allah pasti tengah menaikkan level keimanan kita.

Monday, April 29, 2019

Event Nulis Bareng Bersama AiriZ Publishing

     Ini merupakan cerita yang saya masukan dalam event menullis bareng bersama Redaksi Airiz. Event ini diikuti oleh 36 peserta secara keseluruhan dengan suguhan cerita yang berbeda-beda. Event Nulis Bareng ini juga mengangkat tema Valentine. Pasti beragam pandangan dan pendapat mengenai Valentine. Termasuk pada 36 Cerita yang akan dimasukkan ke dalam dua buku Antologi ini pun juga berdasarkan pengalaman, cerita, kisah, dan pendapat masing-masing penulis mengenai Valentine yang dimuat menjadi cerita pendek dengan berbagai kekhasan kepenulisan.
Berikut adalah cerita yang saya buat dalam event ini. Dan tulisan ini masuk ke dalam Buku Antologi ke-1 Berjudul Desvicable Vaal. Selamat membaca!



Ingatan dan Lamunan di Hari Valentine
 Oleh Nia Kurniati

                Bandung di bulan Februari ini terbilang mendung. Bagi sebagian orang menyebutkan bahwa bulan ini adalah bulannya kasih sayang. Bulan yang dapat menghadirkan suatu frekuensi tertentu dimana setiap pasangan akan saling mengatakan perasaannya.
Apalagi cokelat pasti mulai laris di pasaran. Bahkan supermarket bersedia membungkus cokelat menjadi kado yang sangat indah. Di luar dari diriku, sayangnya aku tidak mengikuti kebiasaan kebarat-baratan itu. Mungkin aku setengah membosankan, atau mungkin aku terbilang kampungan. Entahlah, bagiku jika bulan Februari, maka ya cuman ada 28 hari. Haha!
Hujan sedang turun. Badanku sudah mulai terasa ringan kembali setelah setengah jam yang lalu melaksanakan olahraga. Udara terasa begitu dingin, rasanya seragamku yang tebal ini belum cukup untuk memberi kehangatan pada tubuhku. Di antara lorong sekolah, aku duduk bersama kedua sahabat setiaku. Nadia dan Adelia.
Hujan seperti ini pasti lama!” Ujar Nadia pada kami berdua.
“Iya, huh. Mana masih tersisa satu pelajaran. Pasti bakal mengantuk sekali nanti di kelas. Hoaahhh!” Jawabku sambil menguap begitu saja.
“Iya, hemh!” Jawab Adelia juga.
Hari ini adalah hari Rabu, hari di mana hujan datang lebih cepat dari biasanya. Seminggu terakhir hujan turun selalu di sore hari. Tapi kali ini sepertinya hujan sengaja ingin membuat kejutan untuk datang lebih awal.
                Untungnya hujan turun setelah olahraga selesai.
Udara semakin dingin merasuk ke dalam tubuh kami bertiga. Aku, Nadia dan Adel segera berpindah posisi masuk ke dalam kelas karena sudah tidak kuat lagi menahan udara yang semakin dingin ini. Namun baru saja kami masuk ke dalam kelas, tercium wangi parfum yang begitu kuat.
Parfum siapa itu?
“Duh, siapa sih nih yang pake parfum. Ini kan sekolah, bukan mall. Banyak gaya banget sih!” Nadia marah saking tidak suka dengan wangi parfum yang menyengat ini.
“Ih biasa aja kali Nad, kampungan banget deh!” Ujar Dhika.
                Tiba-tiba teman kelas kami, Dhika, menjawab dengan nada yang kesal. Dhika adalah siswa paling nakal di kelas. Walaupun begitu, selain tampan, Dhika juga merupakan siswa unggulan di sekolah kami, karena prestasi Tim Futsal sekolah yang diikuti olehnya selalu menjadi juara di berbagai pertandingan antar Sekolah Dasar se-Kota Bandung.
Oh ternyata Dhika yang memakai parfum. Hemh.
Nadia terlihat semakin kesal. Wajahnya cemberut dan aku yakin dia akan terus menggerutu di dalam hatinya. Aku dan Adel berusaha untuk menenangkan Nadia. Di kelasku, Nadia memang perempuan tomboy yang cantik. Seandainya dia feminin, dia pasti sudah banyak digandrungi banyak siswa laki-laki. Ah, tapi kan masih Sekolah Dasar.
Aku duduk sebangku dengan Nadia. Kali ini aku mengajak Nadia untuk segera duduk di bangku kami. Adel juga mulai kembali ke tempat duduknya sendiri. Namun, tiba-tiba Dhika mendekat ke arah bangku yang ku duduki dengan Nadia. Aku berpikir mungkinkah akan ada perkelahian lagi antara Dhika dan Nadia. Karena sebelumnya dua orang ini pernah juga beradu mulut di kelas. Dhika semakin mendekat. Aku mulai cemas.
“Apa sih kamu ke sini? Sana duduk di kursi kamu. Bentar lagi bel masuk tau!” Kataku dengan kesal. Namun tiba-tiba Dhika mengeluarkan sesuatu dari tangan yang dia lipat ke belakang. Sesuatu itu terlihat dibungkus oleh kertas kado berwarna cokelat dengan motif boneka Taddy Bear. Aku dan Nadia penasaran. Sementara siswa yang lain pun melihat ke arah kami bertiga. Aku, Dhika dan Nadia.
“Apa itu? Kamu mau jail lagi?” Nadia berkata dengan marahnya.
Enggak lah, ini tuh kado spesial!” Jawab Dhika dengan wajah agak cengengesan.
Aku terus bertanya dalam hati. Keheranan begitu melihat kado itu diangkat oleh kedua tangan Dhika. Sepertinya Nadia juga merasakan hal yang sama. Firasatku mulai curiga dan hati-hati, takutnya itu akan menjadi bahan jailnya Dhika lagi kepada kami. Tapi jika benar itu adalah kado spesial sungguhan, lalu untuk siapa kado itu. Mungkinkah kado itu akan diberikan kepada salah satu di antara aku dan Nadia. Mungkinkah Dhika akan memberikan kado untuk sahabat cantikku Nadia?
Dhika semakin mendekat ke arah bangku kami. Teman-teman di kelas yang lain mulai saling meneriaki Dhika.
“Cieee Dhika,, kado buat siapa tuh Dik?” Teriak Amar menggoda Dhika.
Dhika semakin mendekat dan malah berjalan ke arahku. Nadia mulai menggodaku. Sesekali dia menutup hidungnya karena bau parfum yang tidak bisa dibohongi. Aku masih sempat menatap Nadia. Seketika sekujur badanku jadi gemetaran. Bertanya dalam hati ada apakah ini. Menahan malu di depan banyak teman-teman di kelas.
“Duh ngapain kamu nyamperin aku?” tanyaku pada Dhika. Takut sambil duduk menggeser-geser badan ke Nadia.
Tenang dulu dong lun. Luna, ini kado spesial buat kamu. Selamat hari Valentine yah. Sebenarnya aku udah menyimpan perasaan ini udah lama banget ke kamu. Mungkin ini terlihat konyol. Tapi aku sungguhan. Aku benar-benar serius bicara ini.” Kata Dhika sambil menyodorkan kotak berukuran sekitar 20 cm x 30 cm padaku.
Jantungku mulai berdetak semakin kencang. Naluriku semakin aut-autan alias acak-acakan. Bingung. Di balik hujan rintik ini apa perlu harus bercanda seperti ini. Perasaanku sangat malu. Semua teman-teman di kelas saling meneriaki kami. Terdengar suara Amar menggodaku dan menggoda kami agar berpacaran. Ah tidak. Aku malah ilfil melihatnya. Kita semua ini masih Sekolah Dasar. Tidak pantas begini. Tapi, wajah Nadia ikut berubah yang tadinya memasang wajah kesal, seketika berubah melihatku sambil tersenyum dan bertepuk tangan.
“Ciee... Luna!” Nadia menggodaku.
Valentine, apa benar harus merayakan Valentine?
Aku mulai menerima kotak itu karena penasaran dengan isinya. Seluruh teman-teman di kelas menyuruhku dengan cepat untuk segera membuka kado spesial dari Dhika ini.
“Baiklah akan aku buka!” Kataku sambil segera membuka kotak itu.
“Cokelat?” Aku sudah mulai membuka kotak itu dan aku melihat ada cokelat SilverQueen sebanyak 2 batang. Jujur aku tidak begitu menyukai cokelat.
“Kenapa kamu kasih aku cokelat?” tanyaku.
“Ya karena tadi, aku suka sama kamu Luna. Dan ini kan hari valentine. Dan semua perempuan pasti suka sama cokelat. Ya kan? Ku harap kamu menyukainya Luna!” Jawabnya sambil tersenyum.
“Dan di dalam kotak itu ada uang koin 100 rupiah. Itu jadi saksi dan tanda cinta aku ke kamu Luna. Aku harap kamu bisa simpan itu sampai nanti. Itu kenang-kenangan dari aku buat kamu. Aku nggak apa-apa kalau kamu nggak suka sama aku. Tapi semua orang di kelas ini udah tahu bahwa kamu adalah fans terberat aku!”  Dhika melanjutkan.
Ya ampun, aku masih Sekolah Dasar. Apa sih Valentine?
“Ya ampun, apa-apan sih. Ih aku sih malah sebel bukan seneng, Nad!” Kataku berbisik pada Nadia.
“Udah terima aja, kalau nggak mau, cokelatnya buat kita-kita di kelas aja!” ujar Nadia.
“Aku harap kamu terima yah kado Valentine dari aku!” Dhika mengulang kalimat itu lagi. Aku semakin kegelian, dan akhirnya Dhika langsung pamit pergi menuju ke arah bangkunya.
Baguslah dia pergi.
Sehubungan aku yang tidak  menyukai cokelat ini, maka aku bagikan cokelat ini kepada siapa pun teman-teman di kelas. Entah bagaimana, hanya saja aku berpesan pada Nadia agar semua teman kebagian cokelatnya. Mungkin akan dipotong-potong oleh Nadia atau bagaimana. Biarkan mereka yang mengaturnya saja. Namun mataku kembali ingin melihat koin uang 100 rupiah itu. Aku ambil dan aku berpikir dalam hati bahwa untuk apa memberikan uang 100 rupiah padaku. Dan sebagai tanda cinta pula. Menurutku itu adalah sesuatu yang dianggap tidak memiliki arti apa-apa. Dibelikan permen pun tidak akan membawa pulang 5 buah permen kan. Pasti hanya laku untuk 1 buah permen.
Dan...
“Hahahaha!” Tiba-tiba Fitri tertawa sangat kencang. Orang-orang di sekitar pelataran masjid Pusdai mulai melirik-lirik kami.
 “Wahhh, dan pasti saat itu kamu menjadi Trending topic di SD-mu dulu Lun. Hahahaha” ujar Fitri dan lagi-lagi menertawaiku. Orang ini betul-betul tidak tahu aturan. Ini kan ruang publik. Malu kan dilihat orang.
“Ya begitulah ceritanya. Sshut udah dong, pelan. Kita di perhatiin orang deh jadinya?” kataku malu.
“Yee, iya deh iya, maaf. Maaf ya Luna ku yang cantik. Hadehh. Tapi aku nggak heran sih sama kamu Lun bisa ngalamin Valentine. Soalnya emang kamu kayaknya udah cantik dari orok deh. Sampe SD aja kamu udah punya Fans. Hahaha, kocak!” Fitri masih menertawaiku lagi.
“Ihh apaan, sebel gitu ngomongnya. Lagian aku aja nggak suka sama cokelat. Dikasih mamakku Ice Cream tiga rasa aja, cokelat-strawberry-vanilla aja habisnya Cuma dua rasa. Cokelat nya yang tersisa. Ihh, dan ngapain juga lagi valentine-an. Kan kalau iya bener itu hari kasih sayang. Kenapa musti nunggu di tanggal 14 Februari. Kan setahun banyak tuh hari. Setiap hari kalau berkasih sayang kan mantep yo!” Kataku ngenes.
Ya, itulah kita. Kebanyakan ngikut-ngikut gaya ke -barat-baratan! Padahal belum tentu kita sendiri ngerti apa itu valentine. Sejarahnya seperti apa. Apalagi pas SD. Tapi. Selamat deh  buat kamu Lun, udah pernah merasakan dikasih cokelat. Hahahaha!” Ujar Fitri menertawaiku.
“Enak aja,” jawabku.
***
Hari sabtu masih belum habis sepenuhnya. Masih tersisa sekitar 7 jam lagi. Itu artinya sekarang baru pukul 17.05. Aku dan Fitri baru dari masjid Pusdai. Kini kami akan berpindah alokasi untuk berencana mengisi asupan gizi pada perut kami. Ya. Kami akan menikmati pemandangan kota Bandung dari ketinggian suatu tempat wisata bernama D’dieuland. Itu adalah suatu tempat wisata kuliner terbaru di daerah pertengahan antara Lembang dan Dago, sebagian orang menyebutnya itu ada di kawasan daerah bernama Punclut. Sungguh begitu dingin nan sejuk. Entah mengapa aku melihat beberapa orang bahkan kuat dengan menggunakan rok pendek, ada pula yang menggunakan celana pendek dan lengan pendek tanpa menggunakan jaket. Super sekali.
Kakiku mulai gemetaran, ini bukan hal yang biasa bagiku. Padahal aku sudah mengenakan jaket tebal. Itu karena aku adalah wanita yang tidak bisa lepas dari yang namanya jaket. Tapi Fitri masih bisa sedikit tenang dengan cardigan tipis berwarna orange.
Wahh, Fitri termasuk orang yang kuat pada kedinginan.
Aku dan Fitri kemudian memilih suatu tempat duduk berbentuk lingkaran yang agak luas. Tempat ini tidak tersedia kursi, sehingga kami semua harus duduk berlesehan. Tapi itulah yang ku sukai. Karena lesehan sama dengan berhangat-hangatan. Haha.
“Fit, jangan duduk berjauh-jauhanlah. Deketan kek, biar anget gitu.” Kataku pada Fitri.
“Heuhh lebay, kan banyak tuh bantal. Kumpul-kumpulin aja biar anget!” Betul juga sih. Tempat ini selain banyak bantal yang berwarna warni, juga tersedia tempat duduk seperti bantal juga. Cukup bisa menghangatkan badanku.
“Aneh padahal kamu pake jaket tebal Lun?” Fitri keheranan.
“Iya makanya kurang ini, coba pinjamlah cardigan punyamu!”
“Enak aja. Eh lihat belakangmu Lun!” seru Fitri.
Aku segera melihat ke arah belakang sesuai dengan yang diperintahkan Fitri. Aku melihat sepasang suami-isteri yang bermesraan. Sepasang akhwat dan ikhwan yang saling suap-suapan makanan. Di hadapan mereka adalah dua orang anak mereka. Pasangan itu terlihat awet muda dan sangat cocok sekali. Cantik dan ganteng. Mungkin fix. Itulah definisi keluarga idaman menurut kami.
“Wahh, mereka lagi valentine-nan apa?” kataku membisikii fitri yang duduk di depanku yang terhalang oleh meja di antara kami berdua.
Hadehh, biarin aja dong kalo iya valentine-nan. Toh mereka udah halal ini. Tapi tepatnya bukan valentine kalau udah nikah. Jangan salah sebut loh lun!” Tegas Fitri.
Benar juga apa yang dikatakan Fitri.
“Tapi Fit, emang valentine itu harus yah?” tanyaku pada Fitri yang ku kenali dia sebagai seorang Mahasiswa cerdas, muslimah taat dan berprestasi. Karena beberapa kali Fitri sering mengisi acara Seminar sebagai narasumber untuk tema-tema mahasiswa dan organisasi. Aku sangat mengidolakannya. Dan perbincangan tadi pagi di Pusdai masih belum juga terkendali. Aku belum sempat bertanya soal ini.
“Kita adalah manusia biasa. Sebenarnya memang pantas saja jika kita tertarik pada seseorang. Itu adalah bagian-bagian dari Perhiasan-perhiasan Dunia atau mata’un hayatiddunya. Dan terkadang kita juga ada rasa ingin mengatakan perasaan yang tumbuh dari dalam diri kita. Itu fitrah saja, tapi kan jika muslim. Ada suatu level atau cara terbaik dan halal dimana kasih sayang, atau ungkapan cinta itu mau diutarakan. Yaitu dengan akad. Kalau belum waktunya ya sebisa mungkin bersabar. Daripada dikasih cokelat. Karena menurut aku pandangan islam tentang ini adalah masuk akal. Lha, moso cinta ditukar pake cokelat sih. Mending mana hayoh, Cinta di tukar sama cincin nikah atau sama cokelat yang kepanasan doang aja bisa langsung meleleh? Begitu jawaban dari Fitri.
“Lha mungkin alasannya karena cokelat manis. Mungkin karena itu mbak’e!” kataku pada Fitri.
“Wah, apalagi manis. Coba manisan mana dikasih senyuman habis bangun tidur dari pasangan halal kita atau manis cokelat yang cuman terasa sebentar aja?” Begitu Fitri melanjutkan.
“Lalu sejarahnya gimana tuh Fit?”
“Kalau bicara soal sejarah. Memang sudah termahsyur kan ceritanya. Kisahnya juga udah banyak dijelasin di berbagai tempat. Banyak versinya malah. Bahkan sering tema ini diangkat ke acara kajian hingga masuk diangkat ke sebuah televisi. Nah, itu kan jelas dari sejarahnya kaum non muslim Kisahnya itu berawal dari cerita kematiannya seorang pendeta St. Valentine yang dihukum mati karena menentang kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Nah kan kalau dengar ini akan sangat berbeda dengan ajaran dari umat islam kan. Malahan dalam islam menikah muda itu sangat diperbolehkan karena agar terhindar dari kemaksiatan yang akan menyengsarakan kita di akhirat jika itu terjadi. Naudzubillah.”
 “Dan yang mengangkat hari itu menjadi hari Valentine adalah dari kalangan mereka,  yaitu dari non muslim itu. Itu berarti ya Valentine adalah perayaannya umat non muslim. Jadi sebaiknya umat muslim tidak ikut merayakannya.!” Fitri melanjutkan.
“Lha terus kenapa ada pelarangan?” Tanyaku kembali.
“Pelarangan itu jelas harus bagi kita umat muslim. Jika kita mengikuti perayaan mereka, itu sama artinya kita termasuk ke dalam golongan mereka. Dan, jangan sampai karena cinta atau mengatasnamakan kasih sayang sehingga membuat kita lupa hingga buta bahwa cinta yang suci itu layak diberikan atau ditukar dengan cokelat. Karena ungkapan cinta itu baiknya adalah dengan menikah. Dengan akad. Cinta itu seharusnya tidak membutakan mata dan batin kita. Sebaiknya kita yang muslim jika ingin melakukan perayaan kasih sayang ya pas akad aja lah. Simpel. Dan kasih sayang itu tidak harus selalu di bulan Februari kan!” Begitu katanya.
***
Aku sempat mengalami Valentine itu. Dan aku mendapatkan pula tanda uang 100 rupiah bersamaan dengan dua batang cokelat. Terasa aneh, heran dan begitu menggelitik saat aku mengingat uang 100 rupiah itu. Itu seperti sebuah cerita yang datangnya dari suatu negeri bernama negeri khayalan. (Berkhayal aja sih). Di mana uang 100 rupiah akan menjadi mata uang paling berharga dan sangat Fenomenal. Membayangkan aku menyimpan di dalam suatu tempat transparan dan dialasi oleh bantal emas layaknya sebuah Mahkota kerajaan tersimpan dengan baik. Ini bukan mainan, atau sembarang benda begitu saja.
Lantas uang itu menjadi bagian dari sebuah museum yang sangat besar. 100 rupiah ini  masuk ke dalam kategori uang paling bersejarah dan berpengaruh di kerajaan dan istanaku. Ah, dan aku merasakan aroma wangi parfum Dhika yang begitu kuat itu ada setiap kali jika aku mencium bau uang 100 rupiah itu. Saat aku mengusapnya satu kali, maka akan memantul sinar cahaya dari uang tersebut. Memukau. Haha. Namun jika bau itu tercium oleh Nadia, maka suara kemarahan Nadia akan terdengar di seluruh penjuru museum di istanaku. Tidak!
“Wahai Ratu Luna, mau kau apakan uang 100 rupiah itu?” Tanya para bala istana.
“Aku hanya akan memegangnya sebentar. Tapi tunggu, jika saja uang 100 rupiah ini dapat aku tukarkan menjadi sebuah istana baru yang megah, maka persiapkanlah pasukan pengawal. Karena aku akan pergi ke kerajaan tetangga kita untuk menjual koin ini.” Perintahku.
Bala pasukan pengawal mulai membentuk barisan. Segala persiapan sudah cukup, termasuk alat kendaraan yang akan digunakan untuk pergi menuju kerajaan tetangga yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kerajaan kami. Lalu mulailah perjalanan kami menuju kerajaan tetangga. Dengan banyak melewati lembah, sungai dan sedikit menaiki bukit. Setidaknya kami sudah banyak mengumpulkan persiapan makanan dan minuman untuk perjalanan ini. Lalu sampailah kami di kerjaan bernama Tetangga ini.
Disambutlah kami oleh sang Raja Besar.
“Wahai Ratu Luna, apa yang membuatmu datang kemari. Sehingga kamu membawa hampir seluruh pasukanmu untuk datang ketempatku?” Tanya Raja Besar nan gagah perkasa.
“Aku tidak akan banyak berkata. Maksud kedatanganku adalah ini!” Segeralah aku menunjukkan sebuah kotak kecil dengan bungkus yang berkilauan.
“Apa itu Ratu Luna?” Raja bertanya.
“Aku hendak ingin menjual koin ini kepadamu Raja. Aku dengar kerajaanmu lebih kaya daripada kerajaanku. Aku ingin engkau membeli koin ini. Lihatlah dulu!” Tuturku.
Lalu seorang pengawal membantu menyerahkan kotak itu kepada Raja. Raja lalu terkejut.
“Apa-apaan ini! Kau mau bercanda? Kau pikir uang 100 rupiah ini bisa kau ganti dengan istana. Begitu maksudmu Ratu?” Tertawalah Raja Besar.
“Hahahaha,, Ratu. Janganlah kamu berkhayal. Hahahaha!” Tertawa itu mulai tidak asing.
“Hahahaha,”
Ah tidak, itu ternyata tertawanya Fitri. Aku baru tersadar dari dunia khayalan.
Cinta itu teramat suci. Islam begitu menjaga kesuciannya. Dan adalah dengan menikah agar cinta itu dikemas dan dapat terjaga dengan baik dan indah. Jika harus diungkapkan melalui perayaan, maka ada istilah perayaan dimana ada dua saksi dan wali yang akan turut menjadikan halal suatu perayaan. Dimana ada dua calon pasangan  yang akan saling berikrar karena ingin menggapai ridho-Nya. Beribadah dan mensucikan dirinya.
Jika Valentine hanya dimiliki pada bulan Februari, maka pernikahan adalah kesempatan berbagi kasih dan sayang sepanjang hari, setiap bulan, setiap tahun. Tidak akan terlewat waktu jika itu harus malam minggu atau di waktu malam-malam lainnya. Begitu indah jika cinta dibayar mahal oleh ikatan yang suci, terjaga tanpa harus ada tanda cokelat dan bulan Februari. Jika diriku tidak meyukai cokelat, apalah artinya sebuah Valentine bukan? Apalagi dengan koin senilai 100 rupiah. Rumah pun tak-kan pernah terbeli. Jika saja seratus juta, ah khayalan apalagi. Bangun Luna!
***
“Cinta Bukan mengajar kita untuk menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.”
(Buya Hamka)


Kalimat Sejuk Oleh Nia Kurniati

Kalimat Sejuk Selamat datang wahai hati yang sudah lama tak bertemu Apa kabarmu? Engkau terlihat baik-baik saja Aku baru tahu ...