Ini merupakan cerita yang saya masukan dalam event menullis bareng bersama Redaksi Airiz. Event ini diikuti oleh 36 peserta secara keseluruhan dengan suguhan cerita yang berbeda-beda. Event Nulis Bareng ini juga mengangkat tema Valentine. Pasti beragam pandangan dan pendapat mengenai Valentine. Termasuk pada 36 Cerita yang akan dimasukkan ke dalam dua buku Antologi ini pun juga berdasarkan pengalaman, cerita, kisah, dan pendapat masing-masing penulis mengenai Valentine yang dimuat menjadi cerita pendek dengan berbagai kekhasan kepenulisan.
Berikut adalah cerita yang saya buat dalam event ini. Dan tulisan ini masuk ke dalam Buku Antologi ke-1 Berjudul Desvicable Vaal. Selamat membaca!
Ingatan dan Lamunan di Hari Valentine
Oleh Nia Kurniati
Bandung
di bulan Februari ini terbilang mendung. Bagi sebagian orang menyebutkan bahwa
bulan ini adalah bulannya kasih sayang. Bulan yang dapat menghadirkan suatu
frekuensi tertentu dimana setiap pasangan akan saling mengatakan perasaannya.
Apalagi cokelat pasti
mulai laris di pasaran. Bahkan supermarket bersedia membungkus cokelat menjadi
kado yang sangat indah. Di luar dari diriku, sayangnya aku tidak mengikuti
kebiasaan kebarat-baratan itu. Mungkin aku setengah membosankan, atau mungkin
aku terbilang kampungan. Entahlah, bagiku jika bulan Februari, maka ya cuman
ada 28 hari. Haha!
Hujan sedang turun.
Badanku sudah mulai terasa ringan kembali setelah setengah jam yang lalu
melaksanakan olahraga. Udara terasa begitu dingin, rasanya seragamku yang tebal
ini belum cukup untuk memberi kehangatan pada tubuhku. Di antara lorong
sekolah, aku duduk bersama kedua sahabat setiaku. Nadia dan Adelia.
“Hujan seperti ini pasti lama!” Ujar Nadia
pada kami berdua.
“Iya, huh. Mana masih
tersisa satu pelajaran. Pasti bakal mengantuk sekali nanti di kelas. Hoaahhh!”
Jawabku sambil menguap begitu saja.
“Iya, hemh!” Jawab Adelia juga.
Hari ini adalah hari
Rabu, hari di mana hujan datang lebih cepat dari biasanya. Seminggu terakhir
hujan turun selalu di sore hari. Tapi kali ini sepertinya hujan sengaja ingin
membuat kejutan untuk datang lebih awal.
Untungnya hujan turun setelah olahraga selesai.
Udara semakin dingin
merasuk ke dalam tubuh kami bertiga. Aku, Nadia dan Adel segera berpindah
posisi masuk ke dalam kelas karena sudah tidak kuat lagi menahan udara yang
semakin dingin ini. Namun baru saja kami masuk ke dalam kelas, tercium wangi
parfum yang begitu kuat.
Parfum siapa itu?
“Duh, siapa sih nih yang
pake parfum. Ini kan sekolah, bukan mall. Banyak gaya banget sih!” Nadia
marah saking tidak suka dengan wangi parfum yang menyengat ini.
“Ih biasa aja kali Nad,
kampungan banget deh!” Ujar Dhika.
Tiba-tiba
teman kelas kami, Dhika, menjawab dengan nada yang kesal. Dhika adalah siswa
paling nakal di kelas. Walaupun begitu, selain tampan, Dhika juga merupakan
siswa unggulan di sekolah kami, karena prestasi Tim Futsal sekolah yang diikuti
olehnya selalu menjadi juara di berbagai pertandingan antar Sekolah Dasar
se-Kota Bandung.
Oh ternyata Dhika yang
memakai parfum. Hemh.
Nadia terlihat semakin
kesal. Wajahnya cemberut dan aku yakin dia akan terus menggerutu di dalam
hatinya. Aku dan Adel berusaha untuk menenangkan Nadia. Di kelasku, Nadia
memang perempuan tomboy yang cantik. Seandainya dia feminin, dia pasti
sudah banyak digandrungi banyak siswa laki-laki. Ah, tapi kan masih Sekolah
Dasar.
Aku duduk sebangku
dengan Nadia. Kali ini aku mengajak Nadia untuk segera duduk di bangku kami.
Adel juga mulai kembali ke tempat duduknya sendiri. Namun, tiba-tiba Dhika
mendekat ke arah bangku yang ku duduki dengan Nadia. Aku berpikir mungkinkah
akan ada perkelahian lagi antara Dhika dan Nadia. Karena sebelumnya dua orang
ini pernah juga beradu mulut di kelas. Dhika semakin mendekat. Aku mulai cemas.
“Apa sih kamu ke sini?
Sana duduk di kursi kamu. Bentar lagi bel
masuk tau!” Kataku dengan kesal. Namun tiba-tiba Dhika mengeluarkan sesuatu
dari tangan yang dia lipat ke belakang. Sesuatu itu terlihat dibungkus oleh
kertas kado berwarna cokelat dengan motif boneka Taddy Bear. Aku dan
Nadia penasaran. Sementara siswa yang lain pun melihat ke arah kami bertiga.
Aku, Dhika dan Nadia.
“Apa itu? Kamu mau jail
lagi?” Nadia berkata dengan marahnya.
“Enggak lah, ini tuh kado spesial!” Jawab Dhika dengan wajah agak
cengengesan.
Aku terus bertanya dalam
hati. Keheranan begitu melihat kado itu diangkat oleh kedua tangan Dhika.
Sepertinya Nadia juga merasakan hal yang sama. Firasatku mulai curiga dan
hati-hati, takutnya itu akan menjadi bahan jailnya Dhika lagi kepada kami. Tapi
jika benar itu adalah kado spesial sungguhan, lalu untuk siapa kado itu.
Mungkinkah kado itu akan diberikan kepada salah satu di antara aku dan Nadia.
Mungkinkah Dhika akan memberikan kado untuk sahabat cantikku Nadia?
Dhika semakin mendekat
ke arah bangku kami. Teman-teman di kelas yang lain mulai saling meneriaki
Dhika.
“Cieee Dhika,, kado buat
siapa tuh Dik?” Teriak Amar menggoda Dhika.
Dhika semakin mendekat
dan malah berjalan ke arahku. Nadia mulai menggodaku. Sesekali dia menutup
hidungnya karena bau parfum yang tidak bisa dibohongi. Aku masih sempat menatap
Nadia. Seketika sekujur badanku jadi gemetaran. Bertanya dalam hati ada apakah
ini. Menahan malu di depan banyak teman-teman di kelas.
“Duh ngapain kamu nyamperin aku?” tanyaku pada Dhika.
Takut sambil duduk menggeser-geser badan ke Nadia.
“Tenang dulu dong lun. Luna, ini kado
spesial buat kamu. Selamat hari Valentine yah. Sebenarnya aku udah menyimpan
perasaan ini udah lama banget ke
kamu. Mungkin ini terlihat konyol. Tapi aku sungguhan. Aku benar-benar serius
bicara ini.” Kata Dhika sambil menyodorkan kotak berukuran sekitar 20 cm x 30
cm padaku.
Jantungku mulai berdetak
semakin kencang. Naluriku semakin aut-autan alias acak-acakan. Bingung.
Di balik hujan rintik ini apa perlu harus bercanda seperti ini. Perasaanku
sangat malu. Semua teman-teman di kelas saling meneriaki kami. Terdengar suara
Amar menggodaku dan menggoda kami agar berpacaran. Ah tidak. Aku malah ilfil
melihatnya. Kita semua ini masih Sekolah Dasar. Tidak pantas begini. Tapi,
wajah Nadia ikut berubah yang tadinya memasang wajah kesal, seketika berubah
melihatku sambil tersenyum dan bertepuk tangan.
“Ciee... Luna!” Nadia
menggodaku.
Valentine, apa benar
harus merayakan Valentine?
Aku mulai menerima kotak
itu karena penasaran dengan isinya. Seluruh teman-teman di kelas menyuruhku
dengan cepat untuk segera membuka kado spesial dari Dhika ini.
“Baiklah akan aku buka!”
Kataku sambil segera membuka kotak itu.
“Cokelat?” Aku sudah mulai membuka kotak itu dan aku
melihat ada cokelat SilverQueen sebanyak 2 batang. Jujur aku tidak
begitu menyukai cokelat.
“Kenapa kamu kasih aku
cokelat?” tanyaku.
“Ya karena tadi, aku
suka sama kamu Luna. Dan ini kan hari valentine. Dan semua perempuan pasti suka
sama cokelat. Ya kan? Ku harap kamu menyukainya Luna!” Jawabnya sambil
tersenyum.
“Dan di dalam kotak itu
ada uang koin 100 rupiah. Itu jadi saksi dan tanda cinta aku ke kamu Luna. Aku
harap kamu bisa simpan itu sampai nanti. Itu kenang-kenangan dari aku buat
kamu. Aku nggak apa-apa kalau kamu nggak suka sama aku. Tapi semua orang di
kelas ini udah tahu bahwa kamu adalah fans terberat aku!” Dhika
melanjutkan.
Ya ampun, aku masih
Sekolah Dasar. Apa sih Valentine?
“Ya ampun, apa-apan sih.
Ih aku sih malah sebel bukan seneng,
Nad!” Kataku berbisik pada Nadia.
“Udah terima aja, kalau nggak mau, cokelatnya buat kita-kita di
kelas aja!” ujar Nadia.
“Aku harap kamu terima
yah kado Valentine dari aku!” Dhika mengulang kalimat itu lagi. Aku semakin
kegelian, dan akhirnya Dhika langsung pamit pergi menuju ke arah bangkunya.
Baguslah dia pergi.
Sehubungan aku yang
tidak menyukai cokelat ini, maka aku bagikan cokelat ini kepada siapa pun
teman-teman di kelas. Entah bagaimana, hanya saja aku berpesan pada Nadia agar
semua teman kebagian cokelatnya. Mungkin akan dipotong-potong oleh Nadia atau
bagaimana. Biarkan mereka yang mengaturnya saja. Namun mataku kembali ingin
melihat koin uang 100 rupiah itu. Aku ambil dan aku berpikir dalam hati bahwa
untuk apa memberikan uang 100 rupiah padaku. Dan sebagai tanda cinta pula.
Menurutku itu adalah sesuatu yang dianggap tidak memiliki arti apa-apa.
Dibelikan permen pun tidak akan membawa pulang 5 buah permen kan. Pasti hanya
laku untuk 1 buah permen.
Dan...
“Hahahaha!” Tiba-tiba
Fitri tertawa sangat kencang. Orang-orang di sekitar pelataran masjid Pusdai
mulai melirik-lirik kami.
“Wahhh, dan pasti saat itu kamu menjadi Trending topic di SD-mu dulu Lun.
Hahahaha” ujar Fitri dan lagi-lagi menertawaiku. Orang ini betul-betul
tidak tahu aturan. Ini kan ruang publik. Malu kan dilihat orang.
“Ya begitulah ceritanya.
Sshut udah dong, pelan. Kita di perhatiin orang deh jadinya?” kataku
malu.
“Yee, iya deh iya, maaf.
Maaf ya Luna ku yang cantik. Hadehh. Tapi aku nggak heran sih sama kamu Lun bisa ngalamin Valentine. Soalnya
emang kamu kayaknya udah cantik dari orok deh. Sampe SD aja kamu udah punya Fans.
Hahaha, kocak!” Fitri masih menertawaiku lagi.
“Ihh apaan, sebel gitu
ngomongnya. Lagian aku aja nggak suka
sama cokelat. Dikasih mamakku Ice Cream tiga rasa aja, cokelat-strawberry-vanilla
aja habisnya Cuma dua rasa. Cokelat nya yang tersisa. Ihh, dan ngapain juga
lagi valentine-an. Kan kalau iya bener itu hari kasih sayang. Kenapa musti nunggu
di tanggal 14 Februari. Kan setahun banyak tuh hari. Setiap hari kalau berkasih
sayang kan mantep yo!” Kataku ngenes.
“Ya, itulah kita. Kebanyakan ngikut-ngikut gaya ke -barat-baratan!
Padahal belum tentu kita sendiri ngerti apa itu valentine. Sejarahnya seperti
apa. Apalagi pas SD. Tapi. Selamat deh buat kamu Lun, udah pernah
merasakan dikasih cokelat. Hahahaha!” Ujar Fitri menertawaiku.
“Enak aja,” jawabku.
***
Hari sabtu masih belum
habis sepenuhnya. Masih tersisa sekitar 7 jam lagi. Itu artinya sekarang baru
pukul 17.05. Aku dan Fitri baru dari masjid Pusdai. Kini kami akan berpindah
alokasi untuk berencana mengisi asupan gizi pada perut kami. Ya. Kami akan
menikmati pemandangan kota Bandung dari ketinggian suatu tempat wisata bernama
D’dieuland. Itu adalah suatu tempat wisata kuliner terbaru di daerah
pertengahan antara Lembang dan Dago, sebagian orang menyebutnya itu ada di
kawasan daerah bernama Punclut. Sungguh begitu dingin nan sejuk. Entah mengapa
aku melihat beberapa orang bahkan kuat dengan menggunakan rok pendek, ada pula
yang menggunakan celana pendek dan lengan pendek tanpa menggunakan jaket. Super
sekali.
Kakiku mulai gemetaran,
ini bukan hal yang biasa bagiku. Padahal aku sudah mengenakan jaket tebal. Itu
karena aku adalah wanita yang tidak bisa lepas dari yang namanya jaket. Tapi
Fitri masih bisa sedikit tenang dengan cardigan tipis berwarna orange.
Wahh, Fitri termasuk
orang yang kuat pada kedinginan.
Aku dan Fitri kemudian
memilih suatu tempat duduk berbentuk lingkaran yang agak luas. Tempat ini tidak
tersedia kursi, sehingga kami semua harus duduk berlesehan. Tapi itulah yang ku
sukai. Karena lesehan sama dengan berhangat-hangatan. Haha.
“Fit, jangan duduk
berjauh-jauhanlah. Deketan kek, biar anget
gitu.” Kataku pada Fitri.
“Heuhh lebay, kan banyak
tuh bantal. Kumpul-kumpulin aja biar anget!” Betul juga sih.
Tempat ini selain banyak bantal yang berwarna warni, juga tersedia tempat duduk
seperti bantal juga. Cukup bisa menghangatkan badanku.
“Aneh padahal kamu pake
jaket tebal Lun?” Fitri keheranan.
“Iya makanya kurang ini,
coba pinjamlah cardigan punyamu!”
“Enak aja. Eh lihat
belakangmu Lun!” seru Fitri.
Aku segera melihat ke
arah belakang sesuai dengan yang diperintahkan Fitri. Aku melihat sepasang
suami-isteri yang bermesraan. Sepasang akhwat dan ikhwan yang saling
suap-suapan makanan. Di hadapan mereka adalah dua orang anak mereka. Pasangan
itu terlihat awet muda dan sangat cocok sekali. Cantik dan ganteng. Mungkin fix. Itulah definisi keluarga idaman
menurut kami.
“Wahh, mereka lagi
valentine-nan apa?” kataku membisikii fitri yang duduk di depanku yang
terhalang oleh meja di antara kami berdua.
“Hadehh, biarin
aja dong kalo iya valentine-nan. Toh mereka udah halal ini. Tapi tepatnya bukan
valentine kalau udah nikah. Jangan salah sebut loh lun!” Tegas Fitri.
Benar juga apa yang
dikatakan Fitri.
“Tapi Fit, emang
valentine itu harus yah?” tanyaku pada Fitri yang ku kenali dia sebagai seorang
Mahasiswa cerdas, muslimah taat dan berprestasi. Karena beberapa kali Fitri
sering mengisi acara Seminar sebagai narasumber untuk tema-tema mahasiswa dan
organisasi. Aku sangat mengidolakannya. Dan perbincangan tadi pagi di Pusdai
masih belum juga terkendali. Aku belum sempat bertanya soal ini.
“Kita adalah manusia
biasa. Sebenarnya memang pantas saja jika kita tertarik pada seseorang. Itu
adalah bagian-bagian dari Perhiasan-perhiasan Dunia atau mata’un
hayatiddunya. Dan terkadang kita juga ada rasa ingin mengatakan perasaan
yang tumbuh dari dalam diri kita. Itu fitrah saja, tapi kan jika muslim. Ada
suatu level atau cara terbaik dan
halal dimana kasih sayang, atau ungkapan cinta itu mau diutarakan. Yaitu dengan
akad. Kalau belum waktunya ya sebisa mungkin bersabar. Daripada dikasih
cokelat. Karena menurut aku pandangan islam tentang ini adalah masuk akal. Lha,
moso cinta ditukar pake cokelat sih.
Mending mana hayoh, Cinta di tukar sama cincin nikah atau sama cokelat
yang kepanasan doang aja bisa langsung meleleh?” Begitu jawaban dari
Fitri.
“Lha mungkin alasannya
karena cokelat manis. Mungkin karena itu mbak’e!”
kataku pada Fitri.
“Wah, apalagi manis.
Coba manisan mana dikasih senyuman habis bangun tidur dari pasangan halal kita
atau manis cokelat yang cuman terasa sebentar aja?” Begitu Fitri melanjutkan.
“Lalu sejarahnya gimana
tuh Fit?”
“Kalau bicara soal
sejarah. Memang sudah termahsyur kan ceritanya. Kisahnya juga udah banyak
dijelasin di berbagai tempat. Banyak versinya malah. Bahkan sering tema ini
diangkat ke acara kajian hingga masuk diangkat ke sebuah televisi. Nah, itu kan
jelas dari sejarahnya kaum non muslim Kisahnya itu berawal dari cerita
kematiannya seorang pendeta St. Valentine yang dihukum mati karena
menentang kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Nah kan kalau
dengar ini akan sangat berbeda dengan ajaran dari umat islam kan. Malahan dalam
islam menikah muda itu sangat diperbolehkan karena agar terhindar dari
kemaksiatan yang akan menyengsarakan kita di akhirat jika itu terjadi. Naudzubillah.”
“Dan yang mengangkat hari itu menjadi hari
Valentine adalah dari kalangan mereka, yaitu dari non muslim itu. Itu
berarti ya Valentine adalah perayaannya umat non muslim. Jadi sebaiknya umat
muslim tidak ikut merayakannya.!” Fitri melanjutkan.
“Lha terus kenapa ada
pelarangan?” Tanyaku kembali.
“Pelarangan itu jelas
harus bagi kita umat muslim. Jika kita mengikuti perayaan mereka, itu sama
artinya kita termasuk ke dalam golongan mereka. Dan, jangan sampai karena cinta
atau mengatasnamakan kasih sayang sehingga membuat kita lupa hingga buta bahwa
cinta yang suci itu layak diberikan atau ditukar dengan cokelat. Karena
ungkapan cinta itu baiknya adalah dengan menikah. Dengan akad. Cinta itu seharusnya
tidak membutakan mata dan batin kita. Sebaiknya kita yang muslim jika ingin
melakukan perayaan kasih sayang ya pas akad aja lah. Simpel. Dan kasih sayang itu tidak harus selalu di bulan Februari
kan!” Begitu katanya.
***
Aku sempat mengalami Valentine
itu. Dan aku mendapatkan pula tanda uang 100 rupiah bersamaan dengan dua batang
cokelat. Terasa aneh, heran dan begitu menggelitik saat aku mengingat uang 100
rupiah itu. Itu seperti sebuah cerita yang datangnya dari suatu negeri bernama
negeri khayalan. (Berkhayal aja sih). Di mana uang 100 rupiah akan menjadi mata
uang paling berharga dan sangat Fenomenal.
Membayangkan aku menyimpan di dalam suatu tempat transparan dan dialasi oleh bantal emas layaknya sebuah Mahkota
kerajaan tersimpan dengan baik. Ini bukan mainan, atau sembarang benda begitu
saja.
Lantas uang itu menjadi
bagian dari sebuah museum yang sangat besar. 100 rupiah ini masuk ke
dalam kategori uang paling bersejarah dan berpengaruh di kerajaan dan istanaku.
Ah, dan aku merasakan aroma wangi parfum Dhika yang begitu kuat itu ada setiap
kali jika aku mencium bau uang 100 rupiah itu. Saat aku mengusapnya satu kali,
maka akan memantul sinar cahaya dari uang tersebut. Memukau. Haha. Namun jika
bau itu tercium oleh Nadia, maka suara kemarahan Nadia akan terdengar di
seluruh penjuru museum di istanaku. Tidak!
“Wahai Ratu Luna, mau
kau apakan uang 100 rupiah itu?” Tanya para bala istana.
“Aku hanya akan
memegangnya sebentar. Tapi tunggu, jika saja uang 100 rupiah ini dapat aku
tukarkan menjadi sebuah istana baru yang megah, maka persiapkanlah pasukan
pengawal. Karena aku akan pergi ke kerajaan tetangga kita untuk menjual koin
ini.” Perintahku.
Bala pasukan pengawal
mulai membentuk barisan. Segala persiapan sudah cukup, termasuk alat kendaraan yang
akan digunakan untuk pergi menuju kerajaan tetangga yang berjarak sekitar 10
kilometer dari kerajaan kami. Lalu mulailah perjalanan kami menuju kerajaan
tetangga. Dengan banyak melewati lembah, sungai dan sedikit menaiki bukit.
Setidaknya kami sudah banyak mengumpulkan persiapan makanan dan minuman untuk
perjalanan ini. Lalu sampailah kami di kerjaan bernama Tetangga ini.
Disambutlah kami oleh
sang Raja Besar.
“Wahai Ratu Luna, apa
yang membuatmu datang kemari. Sehingga kamu membawa hampir seluruh pasukanmu
untuk datang ketempatku?” Tanya Raja Besar nan gagah perkasa.
“Aku tidak akan banyak
berkata. Maksud kedatanganku adalah ini!” Segeralah aku menunjukkan sebuah
kotak kecil dengan bungkus yang berkilauan.
“Apa itu Ratu Luna?”
Raja bertanya.
“Aku hendak ingin
menjual koin ini kepadamu Raja. Aku dengar kerajaanmu lebih kaya daripada
kerajaanku. Aku ingin engkau membeli koin ini. Lihatlah dulu!” Tuturku.
Lalu seorang pengawal
membantu menyerahkan kotak itu kepada Raja. Raja lalu terkejut.
“Apa-apaan ini! Kau mau
bercanda? Kau pikir uang 100 rupiah ini bisa kau ganti dengan istana. Begitu
maksudmu Ratu?” Tertawalah Raja Besar.
“Hahahaha,, Ratu.
Janganlah kamu berkhayal. Hahahaha!” Tertawa itu mulai tidak asing.
“Hahahaha,”
Ah tidak, itu ternyata
tertawanya Fitri. Aku baru tersadar dari dunia khayalan.
Cinta itu teramat suci.
Islam begitu menjaga kesuciannya. Dan adalah dengan menikah agar cinta itu
dikemas dan dapat terjaga dengan baik dan indah. Jika harus diungkapkan melalui
perayaan, maka ada istilah perayaan dimana ada dua saksi dan wali yang akan
turut menjadikan halal suatu perayaan. Dimana ada dua calon pasangan yang
akan saling berikrar karena ingin menggapai ridho-Nya. Beribadah dan mensucikan
dirinya.
Jika Valentine hanya
dimiliki pada bulan Februari, maka pernikahan adalah kesempatan berbagi kasih
dan sayang sepanjang hari, setiap bulan, setiap tahun. Tidak akan terlewat
waktu jika itu harus malam minggu atau di waktu malam-malam lainnya. Begitu
indah jika cinta dibayar mahal oleh ikatan yang suci, terjaga tanpa harus ada
tanda cokelat dan bulan Februari. Jika diriku tidak meyukai cokelat, apalah
artinya sebuah Valentine bukan? Apalagi dengan koin senilai 100 rupiah. Rumah
pun tak-kan pernah terbeli. Jika saja
seratus juta, ah khayalan apalagi. Bangun Luna!
***
“Cinta Bukan mengajar kita untuk
menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan
semangat, tetapi membangkitkan semangat.”
(Buya Hamka)