Waktu itu hujan sangat besar. Bahkan payung tak kuat menahan air yang jatuh menimpanya -tak tertahankan. Posisi duduk di pinggir jalan, seingatku hari itu adalah hari yang begitu padat. Tepatnya di hari senin waktu petang.
"Penantian itu ibarat aku menunggu hujan reda. Mataku akan berkaca-kaca, sambil doa dalam hatiku terus mengepung perasaanku. Sebelum reda, aku akan tetap menunggunya. Walau harus lalui segala uji-Nya.
Penantian itu juga ibarat aku menunggu jalanan kering dari basahnya terkena air hujan. Tapi dari semua penantian yang paling pahit adalah penantian pada suatu hal yang belum tentu adanya kepastian akan kedatangannya.
Aku merasakan Hampa." (Sekitar Dua tahun lalu di Halte bus Alun-alun Bandung).
Kini aku merasakan lagi penantian. Sampai waktu tak terasa maju begitu cepat. Penantian pada suatu hal yang belum juga pasti akan kehadirannya. Sedangkan hanya satu yang pasti, yaitu kematian.
Saat dulu menantikan pasangan, ku percayakan pada Qadar-Nya walaupun semakin hari isak dalam dada. Akhirnya, pada sajadah-lah kembali aku urai air mata.
Dan saat kini aku menantikan kehadiran buah cinta, ku usahakan jua percayakan pada Qadar-Nya. Padahal ketakutan yang tak boleh ku simpan dalam hati. Sebab manusia hanya bisa berencana, tapi Allah yang Berkuasa. Ku yakin bukan hanya diriku, tapi banyak perempuan lain yang rindukan kehadirannya dengan perasaan yang sama, mungkin lebih. Namun pada waktunya ada ketetapan terindah yang Allah jaga dan Dia tetapkan buat hambanya.
"It's not befitting for Allah to take a son, Exalted is He. When he decrees on offair, he only says to it, "Be", and it Is."
Artinya, "Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Maha suci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah, Maka jadilah sesuatu itu." Firman Allah dari qur'an surat Favorit penuh kenangan, Qs. Maryam 19, ayat 35.Qadarullah merasakan segala proses Cinta indah itu. Proses menanti si jodoh, proses jalani ta'aruf dan gagal beberapa kali, proses melepaskan, hingga pada proses penantian yang berlanjut ini. Menanti kehadiran karunia dari-Nya.
Betapa indahnyanya penantian saat aku syukuri kenyataannya. Bukankah cinta-Nya itu nyata?
Ia hadirkan masalah sebagai penguji ketaatan kita.
Ia biarkan kita menunggu, barangkali agar kita bisa menjadi hamba-Nya yang Penyabar.
Sudah berapa lama tumbuh bersama Penantian?
Bisa jadi Allah tengah menggenggam sesuatu yang akan diberikannya kepada kita, yaitu hadiah paling indah.
Berbekal sabar,
Berbekal ridho,
Ikhlas
Syukuri saja. Allah pasti tengah menaikkan level keimanan kita.
