Bismillah...
"Mungkin yang paling mudah itu Menyerah. Tapi yang paling susah itu hadiahnya Tak terhingga."
Quotes, by Me.
Kalimat di atas merupakan Quotes paling pas untuk bangun energi semangat. Seharusnya!. Mungkin tepatnya buat diriku pribadi sihh...
Kita telah habiskan jingga sampai menangis
Sampai lupa kadar semangat yang harusnya semakin kuat
Dari pelarian hingga pada akhirnya menyerah
Ya, paling mudah adalah mengatakan Saya Menyerah,
Tapi,
Apa yang akan aku dapatkan setelah itu... sia-sia !
Kayaknya nggak ada habisnya kita dideru masalah. Ujian semakin hari bertambah, silih berganti. Perasaan, kita sudah jalani hidup dengan hati-hati. Tapi kenapa masih berakhir menyedihkan? Apakah kita kurang ibadahnya? atau kurang sedekahnya? atau kurang tafakurnya? atau kurang belajarnya? atau jangan-jangan emang kita kurang sabarnya?
Menangislah! Kata seru buat mereka yang pada akhirnya tidak mengerti harus melakukan apa, selain yang terpikirkan adalah ingin menangis. Ya, lakukan saja. Menangislah!
Pernah terpikir nggak? Mengapa kita seperti pandai menasehati orang lain sementara pada diri sendiri begitu kalah, lemah. Padahal dirasa tingkat sabar kita di hadapan orang lain begitu besar. Seolah kita bisa hadapi jika masalah orang lain itu menimpa diri kita sendiri. Akan tetapi, tak jarang orang menyebut kita 'So Tegar', padahal kalau sudah merasakannya, bisa jadi akan Down juga. Hemh.
Manusia itu fitrahnya makhluk yang sempurna. Bahkan para malaikat pun juga iri kepada manusia. Megapa sampai harus manusia banyak masalahnya, banyak ujiannya. Mungkin jawabannya benar, yakni karena saking Allah cintanya kepada kita (manusia).
Ujian itu tidak sebatas hanya pembatas dari kufur agar kembali syukur, tapi sebagai sarana agar kita semakin taqwa. Seharusnya. Namun terkadang, kita lupa pada itu dan malah menyalahkan keadaan seakan ini adalah suatu hal paling buruk untuk hidup kita. Di uji, kemudian disembuhkan lagi, kemudian Allah beri lagi ujian lainnya. Lalu, kualitas kesabaran kita sudah bagaimana?
Hadapilah dengan senyuman. Banyak orang yang pada akhirnya semakin kuat karena dia selalu Senyum tatkala ia dikenai musibah. Ending-nya adalah kebaikan lagi untuk dirinya sendiri. Jelas, janji Allah itu pasti. Kebaikan itu balasannya kebaikan pula. Maka barangsiapa yang bisa bersabar saat ditimpa ujian, lalu dia bersyukur maka akan Allah beri Syurga dengan dinamai Baitul Hamdi, yaitu Rumah Rasa Syukur. Pernah dengar kalimat ini? Ya, itu kalimat yang saya kutip dari sebuah video dakwah satu menit dari Ust. Hanan Attaqi.
Ada orang yang sedang rindu kehadiran jodohnya, maka bersabarlah. Ada orang yang diuji kekurangan harta, fisik , maka bersabarlah. Adapula orang yang sudah rindu kehadiran buah hati, maka bersabarlah. Lalu bolehkah saya menangis sekencang-kencangnya?
Ya... menangislah!
Cerita Singkat.
Saya adalah seorang perempuan dengan usia 25 tahun. Saya adalah seorang isteri yang baru dinikahi suami sekitar empat bulan yang lalu. Betapa tidak hati kami sudah merindukan kehadiran buah hati. Walaupun usia pernikahan kami baru saja seumur tunasnya jagung. Ah, masih sangat baru. Akan tetapi, aku yang sudah 25 tahun ini sudah menantikan untuk segera memiliki anak sedari sebelum menikah. Karena, saya termasuk terlambat menikahnya di kala itu. Sedangkan suami di bawah usia saya, akan tetapi rasa harap cemasnya menanti kehamilan saya menjadi doa utama di setiap sujud dan pintanya.
Tapi saya rasa ini bukanlah masalah terbesar saya. Mengapa saya menangis?
Karena, saya ingin memberi buah cinta teruntuk suami saya. Ingin segera lengkap rumah tangga saya. Selain karena saya pun sudah merindukannya.
Dibesarkan dari keluarga dengan pendidikan super keras. Dari orang tua yang keduanya sama-sama disiplin. Menjadikan banyak cerita dramatis dalam hidup saya. Bbanyak hal yang terasa, perasaan yang semestinya tidak ada apalagi teruntuk orang tua. Maka dari itu, sungguh dinantikan kehadiran buah hati, agar diri terasa tidak sepi. Agar terganti segala perasaan tenang apabila telah hadirnya ia. Tapi semua tidak hanya itu.
Ujianku tidak seberapa, akan tetapi kadar ujian yang terasa itu, seberapa hebatnya ia hanya akan terasa oleh diri. Allah beri bertubi-tubi ujian, agar tahu sejauh mana kadar sabarku, bagaimana tingkat keimananku. Sungguh jarang ditemui luka yang paling sedikit, rata-rata luka itu banyak dan bertambah banyak. Akan tetapi ia dapat mengecil, jika kita bisa memaafkan keadaan.
Bersambung. Soon ya...