Sulit ketika mengobati hati yang sudah rapuh. Tak lagi disirami air hujan selama beberapa bulan ini. Kemarau yang panjang terus menguji kesabaranku. Pagi menjadi bengitu sepi, walaupun kemacetan tak henti menyambutku beranjak pergi. Mata sudah membengkak, lagi-lagi karena menangis tadi malam. Bagaimana tidak, ini adalah masa dimana aku mendapat tekanan yang menghebohkan.
Ini adalah hari pertama setelah aku patah hati karena gagal menikah dengan lelaki yang di damba. Lelaki yang soleh, yang sangat menyayangi ibunya. Aku pikir dia takdirku, ternyata merelakan adalah rencana dari-Nya. Aku coba untuk terus mengobati hatiku semenjak keluar dari rumah tadi. Meskipun kerinduan ini masih menghujam di dadaku. Ya, menikah dengan dia seorang laki-laki itu. Perjodohan ini, akhirnya memisahkan kami berdua. Parahnya, perjodohan aku dengan lelaki yang Bapak pilih sebenarnya tidak mau denganku juga. Dia membatalkan perjodohan ini secara sembunyi-sembunyi. Aku menilainya, ya ini dia Maha Besar Allah. Allah beri petunjuk, setelah aku memang beepikir untuk tidak akan menerimanya dikarenakan keraguan terus menyelimuti batinku. Dan, Allohu Akbar, sebelum aku beri jawaban pada laki-laki yang dipilih Bapak, rupanya dia duluan yang meminta untuk membatalkan karena dia pun tak tenang dan rasa beban jika harus menikah denganku perempuan yang tidak diinginkannya tuk jadi pendamping hidupnya.
Allah Maha Adil, Allah Maha Tahu. Setiap laki-laki yanh Bapak jodohkan padaku pada akhirnya memperlihatkan keburukan-keburukannya. Ironisnya, Bapak tetap merasa benar. Bapak menilai mereka dari harta yang mereka sudah punya. Aku terus merasa tidak yakin, dan ternyata Allah juga membuka petunjuk-Nya. Tapi, Bapak terus menyalahi aku. Sampai kini, aku harus mengorbankan hati ku. Melepaskan lelaki yang baik, yang bisa membimbing perihal agamanya hanya karena egoisme bapak. Aku takkan menyalahkannya. Sebab aku percaya pada-Nya. Mungkin ini ketetapan darinya. Qadarullah wamaa sya-a Fa'ala.
Aku mendengar Bapak bersumpah, bahwa jika aku memilih lelaki itu maka aku harus menanti dulu kematian Bapak. Astaghfirullah. Mata ku mengeluarkan air mata, hatiku sakit, dan badanku bergetar mendengar semua yang bapak ucapkan daei lidahnya. Yang ku ingat saat itu, aku langsung pergi ke kamar dan menutup rapat pintu kamarku. Menguncinya agar tak ada Orang yang masuk ke dalam kamarku ini. Rabbi... Rabbi... Rabbi... Aku terus menyebut namanya. Aku beristighfar sambil menangis karena tak kuasa menahannya. Mengapa aku sesakit ini. Luka yang tadinya kecil malah semakin menganga. Amarah yang meluap-luap di dada pun tak bisa aku keluarkan. Bagaimana ini? Pikirku terus begitu. Pikiranku tidak bisa jernih, ku coba terus beristighfar, memohon ampun atas segala dosaku. Namun air mata tak juga berhenti dengan cepat. Aku terisak, sungguh kerinduan inj malah menjadi ujian buatku. Aku mengharap lindunganmu Ya Rabb. Jaga imanku. Aku terus berdoa begitu.
-bersambung-
Dua hari berlalu setelah kakakku memutuskan laki-laki yang ku pilih untuk pergi menyerah dalam memerjuangkanku. Dan aku sampai detik ini masih belum percaya pernah mengalami ujian sepahit ini. Apalagi sejak satu tahun ini aku memang terus ditimpa ujian, selain beberapa kali ditinggal nikah, bapa terus sakit-sakitan dan terus meluapkan emosinya. Hingga terakhir kekacauan antar kakak pertamaku dengan bapak meruak secara tiba-tiba. Begitu terus-terusan. Innalillahi. Aku masih setengah sadar sampai hari ini, masih mengira-ngira dan tak percaya krjadian beberapa hari yang lalu benar-benar menjadi final antara aku dan laki-laki yang ku pilih. Aku bisa menerima kekalahan ini, aku bisa menerima bapak menolak lelaki yang ku pilih tapi aku masih belum bisa terima alasan bapak menolaknya. Alasan bapak terlalu semu. Duniawi. Bapak menolaknya karen Dia belum layak dalam urusan ekonomi. Astaghfirullah. Aku sedih. Tadinya aku berpikir akan segera pergi mrncari kosan dan pergi dari rumah. Aku akan pergi untuk melupakan semua yang sudah terjadi dan aku ingin juga pergi dari bapak yang terus-terus menguji kesabaranku. Bayangkan selama setahun ini, dia masih belum juga sadar. Hingga kakakku punya masalah dengannya bapa juga mengira dirinya tak bersalah apa-apa. Aku cukup dengan Ogah mendengar apapun lagi dari mulut bapak. Aku ]ngin benar-benar lupa.
Dan kali ini, sore ini aku sedang duduk di masjid kampus sambil membuat tulisan ini. Aku tetap tidak ]ng]n kelewatan batas. Aku tak mau terus Membenci bapak, sekali pun aku memang kecewa padanya.
-bersambung-
Dua hari berlalu setelah kakakku memutuskan laki-laki yang ku pilih untuk pergi menyerah dalam memerjuangkanku. Dan aku sampai detik ini masih belum percaya pernah mengalami ujian sepahit ini. Apalagi sejak satu tahun ini aku memang terus ditimpa ujian, selain beberapa kali ditinggal nikah, bapa terus sakit-sakitan dan terus meluapkan emosinya. Hingga terakhir kekacauan antar kakak pertamaku dengan bapak meruak secara tiba-tiba. Begitu terus-terusan. Innalillahi. Aku masih setengah sadar sampai hari ini, masih mengira-ngira dan tak percaya krjadian beberapa hari yang lalu benar-benar menjadi final antara aku dan laki-laki yang ku pilih. Aku bisa menerima kekalahan ini, aku bisa menerima bapak menolak lelaki yang ku pilih tapi aku masih belum bisa terima alasan bapak menolaknya. Alasan bapak terlalu semu. Duniawi. Bapak menolaknya karen Dia belum layak dalam urusan ekonomi. Astaghfirullah. Aku sedih. Tadinya aku berpikir akan segera pergi mrncari kosan dan pergi dari rumah. Aku akan pergi untuk melupakan semua yang sudah terjadi dan aku ingin juga pergi dari bapak yang terus-terus menguji kesabaranku. Bayangkan selama setahun ini, dia masih belum juga sadar. Hingga kakakku punya masalah dengannya bapa juga mengira dirinya tak bersalah apa-apa. Aku cukup dengan Ogah mendengar apapun lagi dari mulut bapak. Aku ]ngin benar-benar lupa.
Dan kali ini, sore ini aku sedang duduk di masjid kampus sambil membuat tulisan ini. Aku tetap tidak ]ng]n kelewatan batas. Aku tak mau terus Membenci bapak, sekali pun aku memang kecewa padanya.
-bersambung-


