Sunday, September 16, 2018

Lautan Mimpi Kemarin Malam

Sulit ketika mengobati hati yang sudah rapuh. Tak lagi disirami air hujan selama beberapa bulan ini. Kemarau yang panjang terus menguji kesabaranku. Pagi menjadi bengitu sepi, walaupun kemacetan tak henti menyambutku beranjak pergi. Mata sudah membengkak, lagi-lagi karena menangis tadi malam. Bagaimana tidak, ini adalah masa dimana aku mendapat tekanan yang menghebohkan. 
Ini adalah hari pertama setelah aku patah hati karena gagal menikah dengan lelaki yang di damba. Lelaki yang soleh, yang sangat menyayangi ibunya. Aku pikir dia takdirku, ternyata merelakan adalah rencana dari-Nya. Aku coba untuk terus mengobati hatiku semenjak keluar dari rumah tadi. Meskipun kerinduan ini masih menghujam di dadaku. Ya, menikah dengan dia seorang laki-laki itu. Perjodohan ini, akhirnya memisahkan kami berdua. Parahnya, perjodohan aku dengan lelaki yang Bapak pilih sebenarnya tidak mau denganku juga. Dia membatalkan perjodohan ini secara sembunyi-sembunyi. Aku menilainya, ya ini dia Maha Besar Allah. Allah beri petunjuk, setelah aku memang beepikir untuk tidak akan menerimanya dikarenakan keraguan terus menyelimuti batinku. Dan, Allohu Akbar, sebelum aku beri jawaban pada laki-laki yang dipilih Bapak, rupanya dia duluan yang meminta untuk membatalkan karena dia pun tak tenang dan rasa beban jika harus menikah denganku perempuan yang tidak diinginkannya tuk jadi pendamping hidupnya. 
Allah Maha Adil, Allah Maha Tahu. Setiap laki-laki yanh Bapak jodohkan padaku pada akhirnya memperlihatkan keburukan-keburukannya. Ironisnya, Bapak tetap merasa benar. Bapak menilai mereka dari harta yang mereka sudah punya. Aku terus merasa tidak yakin, dan ternyata Allah juga membuka petunjuk-Nya. Tapi, Bapak terus menyalahi aku. Sampai kini, aku harus mengorbankan hati ku. Melepaskan lelaki yang baik, yang bisa membimbing perihal agamanya hanya karena egoisme bapak. Aku takkan menyalahkannya. Sebab aku percaya pada-Nya. Mungkin ini ketetapan darinya. Qadarullah wamaa sya-a Fa'ala.
Aku mendengar Bapak bersumpah, bahwa jika aku memilih lelaki itu maka aku harus menanti dulu kematian Bapak. Astaghfirullah. Mata ku mengeluarkan air mata, hatiku sakit, dan badanku bergetar mendengar semua yang bapak ucapkan daei lidahnya. Yang ku ingat saat itu, aku langsung pergi ke kamar dan menutup rapat pintu kamarku. Menguncinya agar tak ada Orang yang masuk ke dalam kamarku ini. Rabbi... Rabbi... Rabbi... Aku terus menyebut namanya. Aku beristighfar sambil menangis karena tak kuasa menahannya. Mengapa aku sesakit ini. Luka yang tadinya kecil malah semakin menganga. Amarah yang meluap-luap di dada pun tak bisa aku keluarkan. Bagaimana ini? Pikirku terus begitu. Pikiranku tidak bisa jernih, ku coba terus beristighfar, memohon ampun atas segala dosaku. Namun air mata tak juga berhenti dengan cepat. Aku terisak, sungguh kerinduan inj malah menjadi ujian buatku. Aku mengharap lindunganmu Ya Rabb. Jaga imanku. Aku terus berdoa begitu.

-bersambung-

Dua hari berlalu setelah kakakku memutuskan laki-laki yang ku pilih untuk pergi menyerah dalam memerjuangkanku. Dan aku sampai detik ini masih belum percaya pernah mengalami ujian sepahit ini. Apalagi sejak satu tahun ini aku memang terus ditimpa ujian, selain beberapa kali ditinggal nikah, bapa  terus sakit-sakitan dan terus meluapkan emosinya. Hingga terakhir kekacauan antar kakak pertamaku dengan bapak  meruak secara tiba-tiba. Begitu terus-terusan. Innalillahi. Aku masih setengah sadar sampai hari ini, masih mengira-ngira dan tak percaya krjadian beberapa hari yang lalu benar-benar menjadi final antara aku dan laki-laki yang ku pilih. Aku bisa menerima kekalahan ini, aku bisa menerima bapak menolak lelaki yang ku pilih tapi aku masih belum bisa terima alasan bapak menolaknya. Alasan bapak terlalu semu. Duniawi. Bapak menolaknya karen Dia belum layak dalam urusan ekonomi. Astaghfirullah. Aku sedih. Tadinya aku berpikir akan segera pergi mrncari kosan dan pergi dari rumah. Aku akan pergi untuk melupakan semua yang sudah terjadi dan aku ingin juga pergi dari bapak yang terus-terus menguji kesabaranku. Bayangkan selama setahun ini, dia masih belum juga sadar. Hingga kakakku punya masalah dengannya bapa juga mengira dirinya tak bersalah apa-apa. Aku cukup dengan Ogah mendengar apapun lagi dari mulut bapak. Aku ]ngin benar-benar lupa.
Dan kali ini, sore ini aku sedang duduk di masjid kampus sambil membuat tulisan ini. Aku tetap tidak ]ng]n kelewatan batas. Aku tak mau terus Membenci bapak, sekali pun aku memang kecewa padanya.

-bersambung-

Ketika Cinta Berakhir Luka


Tragis benar kisah Cinta Romeo dan Juliet. Juga seperti jalan cinta Qays si Majnun dan Layla. Pilu, sepilu kisah cinta Samsul Bahri dan Siti Nurbaya. Cinta yang sedang mengangkasa itu, harus turut jatuh berguguran ke dasar bumi. Seperti daun di musim semi, berguguran dan tersisa hanya ranting dan Pohon yang masih berdiri.
Cinta memang tidak bisa di tebak. Akan kemana ending-nya nanti. Hanya saja, manusia musti siap menerima segala ketetapan Allah Yang Maha Kuasa. Bukankah Cinta-Nya Maha Luas?
Perpisahan memang selalu ada dalam kehidupan. Entah dengan berpisah dengan apapun dan siapa saja, yang jelas itu merupakan Qadar yang pasti ada. Seperti cinta Romeo dan Juliet. Cinta keduanya melangit dan mengangkasa. Selalu tumbuh, bermekaran di taman-taman cinta. Keduanya saling menyayangi, menjaga satu sama lain berusaha mencapai titik dimana Ikrar Suci pertanda kebahagiaan yang Hakiki. Namun, rasa sayang itu justru terasa perih menyiksa batin. Cinta yang meeka miliki harus kandas di tengah jalan, hanya karena keangkuhan keluarga terutama kedua orang tua. 
Ayah Romeo yaitu Tuan Montague ternyata adalah musuh bebuyutan dari Tuan Besar Capulet ayah dari Juliet. Kerinduan dua insan yang akhirnya tidak dipertemukan dengan pernikahan. Terpisah begitu saja karena dendam kedua orang tua mereka. Sepertiair dan minyak yang tidak bisa bersatu. Seperti mimpi buruk di siang bolong. Seperti terbangun dan terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Cerita cinta yang harus kandas bermula dari suatu rasa yang indah.
Cinta memang selalu begitu, Memiliki 2 sisi kemungkinan. Apakah cinta yang tumbuh itu akan mendatangkan kebahagiaan atau cinta itu tumbuh menghadirkan kesengsaraan. Apakah cinta itu akan menimbulkan suka, atau akan mendatangkan luka. Apakah cinta itu akan menjadi sumber kekuatan, atau menjadi sumber kelemahan. Ya, betul. Cinta tak bisa di tebak. Jodoh tetaplah Misteri. Seberapa kuat kitamenjaga cinta, membagus-baguskan cinta ke seluruh dunia jika tidak berjodoh maka takkan jua bersatu. Yang tertinggal hanyalah kenangan yang akan ditutupi debu. Menebal, sampai takkan lagi terlihat apa-apa kecuali setitik dari kisah masa lalu.
Hati memang tidak bisa dibohongi. Berharap cinta menjadi suci, namun bukan terjadi tetapi malah berakhir luka yang menyisakkan dada. Patah hati jadinya. Beda lagi dengan kisah cinta yang tidak direstui bukan karena permusuhan orang tua, tetapi karena melihat harta. Orang tua benar, mereka tidak salah. Mereka mempertimbangkan masa depan anak seperti orang tua pada umumnya. Tapi bagaimana dengan akhlak dan agama yang dimiliki calon menantu? jika menolak karena pertimbangan agama itu akan menjadi wajar bagi insan yang mengharapkan cinta dari seseorang yang mencintai Allah. Namun jika pertimbangan itu adalah persoalan dunia, apakah harus batal dan meluapkan emosi ke segala penghuni rumah. Mengena hingga ke seluruh keluarga. Sungguh, ironis. Menikah karena gengsi bukannya membuat sembuh hati yang keras seperti batu. Yang ada membuatnya menjadi semakin keras. Yang tinggal hanyalah memasrahkan pada Allah, agar membuka pintu hati siapa saja yang tertutupoleh keegoisan. Karena kebahagiaan yang sebenarnya tidak dapat diukur dengan harta melainkan dengan iman. 
Kalaupun harus patah. Biarkan patah dengan sendirinya. Kalaupun memang tidak bisa menyatu biarkan Allah yang akan menggantikan. Mencoba ikhlas, tegar dan sabar. Ketetapan Allah adalah yang terbaik bagi setiap hamba yang mengharap Cinta-Nya. Biarkan hidayah masuk ke dalam hati yang keras. Dan biarkan cinta dan sayang terbang ke langit, semoga sampai di syurga dan dipersatukan disana. Hemh, Jodoh pasti bertemu. InsyaAllah. 

---


Daftar Pustaka:
Syaichu, Ahmad Thabrani.2011. Dahsatnya Cinta. Dian Rakyat. Jakarta

Wednesday, September 12, 2018

Rindu Di Tengah Badai - oleh Nia Kurniati

Tuhanku,
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
-Chairil Anwar-

Di samudera cinta, aku menunggumu
Dari setiap kerinduan yang setiap hari terus menguat
Yang semakin menguat mengangkasa
Tapi badai terus membesar hampir merubuhkan suatu tiang
Secara diam-diam aku berusaha membakar segala asaku
Tapi api tak mau membakarnya
Ku singkab ia di tungku
Ku tutup dengan kain atau kayu tapi tak jua membakarnya
Perjuangan sudah terlalu panjang
Di Istikhoroh-ku berharap segera tiba dirimu
Berharap takdir mempersatukan kita segera
Di tengah badai
Memang takkan pernah habis dengan penalaran
Tapi keyakinan pada Allah semakin menguat
Tak ada yang tak mungkin pada-Nya
Rindu ini akankah segera sampai?
Urusan terus datang silih berganti
Mata berurai air mata
Hati bergejolak memasrahkan pada-Nya
Rindu di tengah badai begitu menyiksakan
Seperti jarum menusuk yang melukai kulit
Kecil pun terasa sakit
Seperti duri yang menusuk kulit
Tergores, tak tentu dalam tapi menyayat
Rindu di penguhujung penantian
Di samudera cinta ini, ku menunggu
Rindu seorang hamba

Tupperware She Can - ELA NURLAELA SAHABAT ANAK JALANAN

"Cinta yang sejati itu fokusnya hanya memberi. Dia tidak berfokus pada balasan. Tulus, tulus dan tulus"
Ela Nurlaela - Pendiri Rumah Belajar Sahaja Ciroyom (ANJAL Ciroyom)

    Pendidikan merupakan suatu kebutuhan individu yang mesti didapatkan. Dengan pendidikan, setiap orang dapat bertambah keilmuannya dan sampai pada tingkat masa depan yang ingin dicapai. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan bagi kelangsungan masa depannya itu, karena dengan ilmu, Allah akan mengangkat derajat seorang hamba. Dan merupakan wajib pula bagi setiap insan. Seperti beberapa Hadis di bawah ini yang menunjuk pada kewajiban seorang manusia dalam mencari ilmu.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya : "Mencari Ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan." HR. Ibnu Abdil Barr

    Namun, pada jaman ini pendidikan menjadi mahal bagi setiap orang. Sudah beberapa kali dibuktikan pada media masa News di televisi bahwa hingga masuk ke sekolah negeri pun biayanya begitu mahal. Meskipun sekarang sudah aktif lagi dana Bos, atau sekolah gratis. Tapi tidak memberi pengaruh ternyata pada beberapa orang tua, sebab ada beberapa hal yang musti di bayar, seperti kelengkapan alat sekolah, buku penunjang dan lain-lainnya. Hingga beberapa kejadian berakhir dengan putus sekolah. Hal itu tidak lain juga berasal dari ketidak-mampuan orang tua dalam menyekolahkan.
     Sama pula dengan yang dirasakan oleh anak-anak jalanan di Ciroyom, Bandung. Dalam hati mereka pastinya ingin untuk sekolah, mencari ilmu hingga naik pada tingkat yang di inginkan. Jangankan untuk bersekolah, untuk makan pun mereka sangat kesulitan. Segala cara dilakukan untuk kelangsungan hidupnya. Termasuk dengan menjadi pengamen di pasar dan terminal ciroyom. Kehidupan yang sulit ini musti dirasakan dengan terpaksa, mau tidak mau kehidupan akan terus berjalan.

      Nah, pada hal ini saya akan me-Review ulang kisah Ela Nurlaela seorang pendiri Rumah Belajar Ciroyom untuk anak jalanan yang diberi nama RUBEL SAHAJA. Rubel itu sendiri adalah singkatan dari Rumah Belajar, sementara Sahaja berarti Sahabat Anak Jalanan. Saya pribadi mengenalnya begitu dekat. Sosok Ela Nurlaela adalah panutan bagi saya adiknya.
       Ela yang akrab di panggil Bunda ini adalah sosok yang lembut, perhatian dan begitu peka pada permasalahan Pendidikan. Jiwa sosial dalam dirinya begitu kuat, apalagi setelah melihat kehidupan anak-anak jalanan. Perhatian kepada anak-anak jalanan itu begitu sangat terasa semakin kuat saat Bunda masih berada di bangku kuliah. Untuk menyelesaikan Studi S1-nya, Bunda kemudian mengangkat kisah Anak Jalanan ini tugas KKN-nya. Ini sesuai dengan tema yang di ambil untuk tugas akhirnya. Bunda Ela sendiri merupakan Mahasiswi UPI dari jurusan Pendidikan Luar Biasa atau PLB.
      Mari kita simak bagaimana kisah bunda Ela yang sudah di angkat oleh Tupperware She Can Trans7.


      Setelah melihat bagaimana  Rubel Ciroyom, maka yang terlintas di pikiran kita adalah kehidupan anak jalanan yang sebenarnya. Dekat dengan preman dan juga hidup yang dibarengi oleh tekanan. Kesulitan ekonomi menghimpit mereka yang akhirnya harus menjadi anak jalanan. Tragisnya kita sering melihat mereka ngelem. Ternyata, ya selain mencari untuk makan, mereak juga mencari uang untuk bisa membeli lem. Memang tidak semua begitu, namun kebanyakan berakhir dengan me-ngelem ini. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan pun kesusahan.
     Latar belakang Broken Home menjadi indeks rata-rata yang banyak menjadi alasan. Orang tua yang keras, hingga perceraian orang tua bahkan hingga ada yang mengalami trauma karena ayah membunuh ibunya dan pergi meninggalkan dia seorang. Sungguh, jika kita flashback sekali lagi. Mungkin ini akibat kehidupan yang jauh dari kata layak. 
     Dengan tanpa keraguan, bunda berusaha mendekati anak-anak jalanan. Berusaha menjadi sahabat bagi mereka. Berusaha menjadi tempat mereka mengadu atau ingin curhat oleh masalah kehidupan mereka. Dengan itu hadirlah Rubel Sahaja. Mekipun kehadirannya di ciroyom banyak ditentang oleh preman pasar, karena di anggap mengganggu pekerjaan anak-anak jalanan dalam mencari uang.  Padahal anak jalanan berhak mendapatkan pendidikan. Karena pendidikan sebetulnya tidak melihat status sosial. Pendidikan harus dipenuhi, paling tidak ilmu agama.

مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya: ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

      Hadis di atas dengan jelasnya menegaskan bahwa memiliki ilmu itu wajib. Karena ilmu dapat mengeluarkan diri dari kesulitan. Dapat mengeluarkan dari gelap menuju terang. Dan perjanjian Allah pada orang yang keuar untuk mencari ilmu adalah akan dinaikkan derajatnya di dunia maupun di akhirat.
 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى
الْجَنَّةِ
Artinya: "Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

       Semoga kisah inspiratif bunda ini dapat menjadi teladan bagi kita. Dengan tanpa membeda-bedakan status sosial, Karena Pendidikan berhak atas setiap orang.


-selesai-



Kutipan: Daarul Ilmi Cendikia

Kalimat Sejuk Oleh Nia Kurniati

Kalimat Sejuk Selamat datang wahai hati yang sudah lama tak bertemu Apa kabarmu? Engkau terlihat baik-baik saja Aku baru tahu ...