"Cinta yang sejati itu fokusnya hanya memberi. Dia tidak berfokus pada balasan. Tulus, tulus dan tulus"
Ela Nurlaela - Pendiri Rumah Belajar Sahaja Ciroyom (ANJAL Ciroyom)
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan individu yang mesti didapatkan. Dengan pendidikan, setiap orang dapat bertambah keilmuannya dan sampai pada tingkat masa depan yang ingin dicapai. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan bagi kelangsungan masa depannya itu, karena dengan ilmu, Allah akan mengangkat derajat seorang hamba. Dan merupakan wajib pula bagi setiap insan. Seperti beberapa Hadis di bawah ini yang menunjuk pada kewajiban seorang manusia dalam mencari ilmu.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya : "Mencari Ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan." HR. Ibnu Abdil Barr
Namun, pada jaman ini pendidikan menjadi mahal bagi setiap orang. Sudah beberapa kali dibuktikan pada media masa News di televisi bahwa hingga masuk ke sekolah negeri pun biayanya begitu mahal. Meskipun sekarang sudah aktif lagi dana Bos, atau sekolah gratis. Tapi tidak memberi pengaruh ternyata pada beberapa orang tua, sebab ada beberapa hal yang musti di bayar, seperti kelengkapan alat sekolah, buku penunjang dan lain-lainnya. Hingga beberapa kejadian berakhir dengan putus sekolah. Hal itu tidak lain juga berasal dari ketidak-mampuan orang tua dalam menyekolahkan.
Sama pula dengan yang dirasakan oleh anak-anak jalanan di Ciroyom, Bandung. Dalam hati mereka pastinya ingin untuk sekolah, mencari ilmu hingga naik pada tingkat yang di inginkan. Jangankan untuk bersekolah, untuk makan pun mereka sangat kesulitan. Segala cara dilakukan untuk kelangsungan hidupnya. Termasuk dengan menjadi pengamen di pasar dan terminal ciroyom. Kehidupan yang sulit ini musti dirasakan dengan terpaksa, mau tidak mau kehidupan akan terus berjalan.
Nah, pada hal ini saya akan me-Review ulang kisah Ela Nurlaela seorang pendiri Rumah Belajar Ciroyom untuk anak jalanan yang diberi nama RUBEL SAHAJA. Rubel itu sendiri adalah singkatan dari Rumah Belajar, sementara Sahaja berarti Sahabat Anak Jalanan. Saya pribadi mengenalnya begitu dekat. Sosok Ela Nurlaela adalah panutan bagi saya adiknya.
Ela yang akrab di panggil Bunda ini adalah sosok yang lembut, perhatian dan begitu peka pada permasalahan Pendidikan. Jiwa sosial dalam dirinya begitu kuat, apalagi setelah melihat kehidupan anak-anak jalanan. Perhatian kepada anak-anak jalanan itu begitu sangat terasa semakin kuat saat Bunda masih berada di bangku kuliah. Untuk menyelesaikan Studi S1-nya, Bunda kemudian mengangkat kisah Anak Jalanan ini tugas KKN-nya. Ini sesuai dengan tema yang di ambil untuk tugas akhirnya. Bunda Ela sendiri merupakan Mahasiswi UPI dari jurusan Pendidikan Luar Biasa atau PLB.
Mari kita simak bagaimana kisah bunda Ela yang sudah di angkat oleh Tupperware She Can Trans7.
Setelah melihat bagaimana Rubel Ciroyom, maka yang terlintas di pikiran kita adalah kehidupan anak jalanan yang sebenarnya. Dekat dengan preman dan juga hidup yang dibarengi oleh tekanan. Kesulitan ekonomi menghimpit mereka yang akhirnya harus menjadi anak jalanan. Tragisnya kita sering melihat mereka ngelem. Ternyata, ya selain mencari untuk makan, mereak juga mencari uang untuk bisa membeli lem. Memang tidak semua begitu, namun kebanyakan berakhir dengan me-ngelem ini. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan pun kesusahan.
Latar belakang Broken Home menjadi indeks rata-rata yang banyak menjadi alasan. Orang tua yang keras, hingga perceraian orang tua bahkan hingga ada yang mengalami trauma karena ayah membunuh ibunya dan pergi meninggalkan dia seorang. Sungguh, jika kita flashback sekali lagi. Mungkin ini akibat kehidupan yang jauh dari kata layak.
Dengan tanpa keraguan, bunda berusaha mendekati anak-anak jalanan. Berusaha menjadi sahabat bagi mereka. Berusaha menjadi tempat mereka mengadu atau ingin curhat oleh masalah kehidupan mereka. Dengan itu hadirlah Rubel Sahaja. Mekipun kehadirannya di ciroyom banyak ditentang oleh preman pasar, karena di anggap mengganggu pekerjaan anak-anak jalanan dalam mencari uang. Padahal anak jalanan berhak mendapatkan pendidikan. Karena pendidikan sebetulnya tidak melihat status sosial. Pendidikan harus dipenuhi, paling tidak ilmu agama.
مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ
أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا
فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya: ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya
memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka
wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka
wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)
Hadis di atas dengan jelasnya menegaskan bahwa memiliki ilmu itu wajib. Karena ilmu dapat mengeluarkan diri dari kesulitan. Dapat mengeluarkan dari gelap menuju terang. Dan perjanjian Allah pada orang yang keuar untuk mencari ilmu adalah akan dinaikkan derajatnya di dunia maupun di akhirat.
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى
الْجَنَّةِ
Artinya: "Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)
Semoga kisah inspiratif bunda ini dapat menjadi teladan bagi kita. Dengan tanpa membeda-bedakan status sosial, Karena Pendidikan berhak atas setiap orang.
-selesai-
Kutipan: Daarul Ilmi Cendikia


No comments:
Post a Comment