Tragis benar kisah Cinta Romeo dan Juliet. Juga seperti jalan cinta Qays si Majnun dan Layla. Pilu, sepilu kisah cinta Samsul Bahri dan Siti Nurbaya. Cinta yang sedang mengangkasa itu, harus turut jatuh berguguran ke dasar bumi. Seperti daun di musim semi, berguguran dan tersisa hanya ranting dan Pohon yang masih berdiri.
Cinta memang tidak bisa di tebak. Akan kemana ending-nya nanti. Hanya saja, manusia musti siap menerima segala ketetapan Allah Yang Maha Kuasa. Bukankah Cinta-Nya Maha Luas?
Perpisahan memang selalu ada dalam kehidupan. Entah dengan berpisah dengan apapun dan siapa saja, yang jelas itu merupakan Qadar yang pasti ada. Seperti cinta Romeo dan Juliet. Cinta keduanya melangit dan mengangkasa. Selalu tumbuh, bermekaran di taman-taman cinta. Keduanya saling menyayangi, menjaga satu sama lain berusaha mencapai titik dimana Ikrar Suci pertanda kebahagiaan yang Hakiki. Namun, rasa sayang itu justru terasa perih menyiksa batin. Cinta yang meeka miliki harus kandas di tengah jalan, hanya karena keangkuhan keluarga terutama kedua orang tua.
Ayah Romeo yaitu Tuan Montague ternyata adalah musuh bebuyutan dari Tuan Besar Capulet ayah dari Juliet. Kerinduan dua insan yang akhirnya tidak dipertemukan dengan pernikahan. Terpisah begitu saja karena dendam kedua orang tua mereka. Sepertiair dan minyak yang tidak bisa bersatu. Seperti mimpi buruk di siang bolong. Seperti terbangun dan terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Cerita cinta yang harus kandas bermula dari suatu rasa yang indah.
Cinta memang selalu begitu, Memiliki 2 sisi kemungkinan. Apakah cinta yang tumbuh itu akan mendatangkan kebahagiaan atau cinta itu tumbuh menghadirkan kesengsaraan. Apakah cinta itu akan menimbulkan suka, atau akan mendatangkan luka. Apakah cinta itu akan menjadi sumber kekuatan, atau menjadi sumber kelemahan. Ya, betul. Cinta tak bisa di tebak. Jodoh tetaplah Misteri. Seberapa kuat kitamenjaga cinta, membagus-baguskan cinta ke seluruh dunia jika tidak berjodoh maka takkan jua bersatu. Yang tertinggal hanyalah kenangan yang akan ditutupi debu. Menebal, sampai takkan lagi terlihat apa-apa kecuali setitik dari kisah masa lalu.
Hati memang tidak bisa dibohongi. Berharap cinta menjadi suci, namun bukan terjadi tetapi malah berakhir luka yang menyisakkan dada. Patah hati jadinya. Beda lagi dengan kisah cinta yang tidak direstui bukan karena permusuhan orang tua, tetapi karena melihat harta. Orang tua benar, mereka tidak salah. Mereka mempertimbangkan masa depan anak seperti orang tua pada umumnya. Tapi bagaimana dengan akhlak dan agama yang dimiliki calon menantu? jika menolak karena pertimbangan agama itu akan menjadi wajar bagi insan yang mengharapkan cinta dari seseorang yang mencintai Allah. Namun jika pertimbangan itu adalah persoalan dunia, apakah harus batal dan meluapkan emosi ke segala penghuni rumah. Mengena hingga ke seluruh keluarga. Sungguh, ironis. Menikah karena gengsi bukannya membuat sembuh hati yang keras seperti batu. Yang ada membuatnya menjadi semakin keras. Yang tinggal hanyalah memasrahkan pada Allah, agar membuka pintu hati siapa saja yang tertutupoleh keegoisan. Karena kebahagiaan yang sebenarnya tidak dapat diukur dengan harta melainkan dengan iman.
Kalaupun harus patah. Biarkan patah dengan sendirinya. Kalaupun memang tidak bisa menyatu biarkan Allah yang akan menggantikan. Mencoba ikhlas, tegar dan sabar. Ketetapan Allah adalah yang terbaik bagi setiap hamba yang mengharap Cinta-Nya. Biarkan hidayah masuk ke dalam hati yang keras. Dan biarkan cinta dan sayang terbang ke langit, semoga sampai di syurga dan dipersatukan disana. Hemh, Jodoh pasti bertemu. InsyaAllah.
---
Daftar Pustaka:
Syaichu, Ahmad Thabrani.2011. Dahsatnya Cinta. Dian Rakyat. Jakarta

Aamiin Allah huma Aamiin
ReplyDelete