Saturday, November 28, 2020

Kalimat Sejuk Oleh Nia Kurniati


Kalimat Sejuk

Selamat datang wahai hati yang sudah lama tak bertemu
Apa kabarmu?
Engkau terlihat baik-baik saja
Aku baru tahu bahwa merindu itu seperti itu
Mataku berair, aku tak bisa menghindar dari kenyataan
Hatiku penuh dengan kecemasan
Setiap kali aku berkaca, yang terlihat hanyalah mata yang penuh dengan kebohongan
Lelah, menantikan kehadiranmu
Berkata bahagia, namun merenung sendirian di tengah malam
Berpura-pura bahagia, padahal aku begitu sakit menahannya dalam dada
Berserah pada-Nya, Allah Pencipta Semesta
Ku kejar dia tiap malam
Mencarinya, manahan kerinduan
Mengatakan padanya suatu kebenaran
Yang terasa, yang tak dapat ku katakan dengan sempurna
Ku hanya punya harapan pada-Nya yang layak untuk ku pinta pada-Nya
Ini karenamu, aku memintamu
Mataku sering tak dapat terpejam lama
Tidurku tak lagi nyenyak seperti sebelumnya
Tapi kini engkau di hadapanku
Ku lihat air mata menetes di pipimu
Ingin ku sentuh itu, ingin ku hapus air matamu
Dia hadirkan engkau pada waktu dimana aku tulus menantimu
Suatu hadiah tak berbentuk lembaran kertas, namun itu adalah kerinduan
Hadiah sebuah kejujuran






Tuesday, March 24, 2020


Gundah


Bulan Purnama di langit hampir pergi lagi
oh, Begini ya rasanya
Tertipu oleh ketidakberdayaan diri sendiri
Kalau aku pandang diri di cermin seperti rasa kaku
Pelan sekali aku memahamimu
Kadang Radarku berhenti tak menerima sinyal lagi
Haruskah aku cari lilin untuk menemani gelapnya malam ini?


Baik Ibu Peri,
Seandainya engkau benar ada, akan aku serahkan padamu rasa ini
Biar aku hanya menerima perintahmu
Agar aku bisa paham betul apa yang menjangkiti hatiku
Rasa kecewakah
Atau sedihkah aku di hadapmu saat engkau berusaha sapu air mataku
Aku harus cari kemana, keindahan yang seperti para penanti menunggunya
Kapan berakhir begini?


Iya, kau tak pernah nyata Peri
Lalu hinakah aku?
Rasa resah, gundah, kemana harus aku berlari
Bahkan hujan sudah mulai turun basahi bumi
Bahkan mimpi buruk terus menghantui
Mereka bilang itu begini
Dia bilang begitu
Tapi Pak tua tak mungkin patahkan hatiku
Dia kan ayahku

Apakah aku harus malu
T'lah ku cari beribu alasan agar dapat berjumpa denganmu
Mungkin entah kapan penantian segera berakhir
Aku tahu cahaya yang kau maksud masa depan belum tentu denganku
Tapi sesudah itu kau bilang tunggu
Rasanya seperti daun akan beguguran di musim hujan
Seperti menunggu di dalam penasaran dan ketidakmungkinan

Thursday, January 23, 2020

Cinta Dalam Diam - Puisi

Cinta Dalam Diam
Oleh. Nia Kurniati



Begini ya rasanya memendam
Mataku berair sejak pagi
Hatiku terus berbicara tentang suatu kalimat
Tolong
Tolong jagakan dia untukku
Tetapkan hatinya agar diberikan hanya kepadaku

Tetapi waktu pasti akan terus berputar
Angin akan bertiup kencang
Jangan menyerah
Jangan patah
Kendalikan
Kuatkan

Sabarlah hati
Mungkin engkau sedang di uji

Biarlah angin meniup samudera di lautan
Menghempas segala apa yang menghalang
Karena kadang hatiku lemah tidak bisa lagi menahan amarah
Atau karena sudah bisu tidak bisa bicara
Jangan biarkan api mengudara
Siramlah walau harus dengan air mata

Jaga ya
Jangan sakit
Mungkin Allah sedang cinta-cintanya
Haruskan aku seduhkan kopi
Atau menyelimutimu saat engkau ingin tertidur
Ku tahu lelahmu

Suamiku
Ada satu yang tak akan tertinggal dariku
Adalah doaku
Hingga padi kemudian tumbuh
Hingga udara menguning menjadi jingga
Atau hingga matahari akan terbenam nanti

Cinta dalam diam
Bergeraklah ke tepian
Jaga langkah kakimu
Jangan goncang
Pasang pasak benar-benar
Lembut, laun terus didekap dengan doa

Jangan tenggelam begitu saja
Atas segala yang belum digenggam
Kumohon jangan bergetar
Tuhan sedang cinta
Mungkin besok pasti bisa
Sabarlah, hati mungkin kini sedang  diuji

Saturday, January 4, 2020

MENANGISLAH - By Nia Kurniati

Bismillah...

"Mungkin yang paling mudah itu Menyerah. Tapi yang paling susah itu hadiahnya Tak terhingga."
Quotes, by Me. 

Kalimat di atas merupakan Quotes paling pas untuk bangun energi semangat. Seharusnya!. Mungkin tepatnya buat diriku pribadi sihh...

Kita telah habiskan jingga sampai menangis
Sampai lupa kadar semangat yang harusnya semakin kuat
Dari pelarian hingga pada akhirnya menyerah
Ya, paling mudah adalah mengatakan Saya Menyerah,
Tapi,
Apa yang akan aku dapatkan setelah itu... sia-sia !
  
Kayaknya nggak ada habisnya kita dideru masalah. Ujian semakin hari bertambah, silih berganti. Perasaan, kita sudah jalani hidup dengan hati-hati. Tapi kenapa masih berakhir menyedihkan? Apakah kita kurang ibadahnya? atau kurang sedekahnya? atau kurang tafakurnya? atau kurang belajarnya? atau jangan-jangan emang kita kurang sabarnya?
Menangislah! Kata seru buat mereka yang pada akhirnya tidak mengerti harus melakukan apa, selain yang terpikirkan adalah ingin menangis. Ya, lakukan saja. Menangislah!

Pernah terpikir nggak? Mengapa kita seperti pandai menasehati orang lain sementara pada diri sendiri begitu kalah, lemah. Padahal dirasa tingkat sabar kita di hadapan orang lain begitu besar. Seolah kita bisa hadapi jika masalah orang lain itu menimpa diri kita sendiri. Akan tetapi, tak jarang orang menyebut kita 'So Tegar', padahal kalau sudah merasakannya, bisa jadi akan Down juga. Hemh.

Manusia itu fitrahnya makhluk yang sempurna. Bahkan para malaikat pun juga iri kepada manusia. Megapa sampai harus manusia banyak masalahnya, banyak ujiannya. Mungkin jawabannya benar, yakni karena saking Allah cintanya kepada kita (manusia). 

Ujian itu tidak sebatas hanya pembatas dari kufur agar kembali syukur, tapi sebagai sarana agar kita semakin taqwa. Seharusnya. Namun terkadang, kita lupa pada itu dan malah menyalahkan keadaan seakan ini adalah suatu hal paling buruk untuk hidup kita. Di uji, kemudian disembuhkan lagi, kemudian Allah beri lagi ujian lainnya. Lalu, kualitas kesabaran kita sudah bagaimana?

Hadapilah dengan senyuman. Banyak orang yang pada akhirnya semakin kuat karena dia selalu Senyum tatkala ia dikenai musibah. Ending-nya adalah kebaikan lagi untuk dirinya sendiri. Jelas, janji Allah itu pasti. Kebaikan itu balasannya kebaikan pula. Maka barangsiapa yang bisa bersabar saat ditimpa ujian, lalu dia bersyukur  maka akan Allah beri Syurga dengan dinamai Baitul Hamdi, yaitu Rumah Rasa Syukur. Pernah dengar kalimat ini? Ya, itu kalimat yang saya kutip dari sebuah video dakwah satu menit dari Ust. Hanan Attaqi. 

Ada orang yang sedang rindu kehadiran jodohnya, maka bersabarlah. Ada orang yang diuji kekurangan harta, fisik , maka bersabarlah. Adapula orang yang sudah rindu kehadiran buah hati, maka bersabarlah. Lalu bolehkah saya menangis sekencang-kencangnya?
Ya... menangislah!

Cerita Singkat.
Saya adalah seorang perempuan dengan usia 25 tahun. Saya adalah seorang isteri yang baru dinikahi suami sekitar empat bulan yang lalu. Betapa tidak hati kami sudah merindukan kehadiran buah hati. Walaupun usia pernikahan kami baru saja seumur tunasnya jagung. Ah, masih sangat baru. Akan tetapi, aku yang sudah 25 tahun ini sudah menantikan untuk segera memiliki anak sedari sebelum menikah. Karena, saya termasuk terlambat menikahnya di kala itu. Sedangkan suami di bawah usia saya, akan tetapi rasa harap cemasnya menanti kehamilan saya menjadi doa utama di setiap sujud dan pintanya. 
Tapi saya rasa ini bukanlah masalah terbesar saya. Mengapa saya menangis?
Karena, saya ingin memberi buah cinta teruntuk suami saya. Ingin segera lengkap rumah tangga saya. Selain karena saya pun sudah merindukannya. 
Dibesarkan dari keluarga dengan pendidikan super keras. Dari orang tua yang keduanya sama-sama disiplin. Menjadikan banyak cerita dramatis dalam hidup saya. Bbanyak hal yang terasa, perasaan yang semestinya tidak ada apalagi teruntuk orang tua. Maka dari itu, sungguh dinantikan kehadiran buah hati, agar diri terasa tidak sepi. Agar terganti segala perasaan tenang apabila telah hadirnya ia. Tapi semua tidak hanya itu.

Ujianku tidak seberapa, akan tetapi kadar ujian yang terasa itu, seberapa hebatnya ia hanya akan terasa oleh diri. Allah beri bertubi-tubi ujian, agar tahu sejauh mana kadar sabarku, bagaimana tingkat keimananku. Sungguh jarang ditemui luka yang paling sedikit, rata-rata luka itu banyak dan bertambah banyak. Akan tetapi ia dapat mengecil, jika kita bisa memaafkan keadaan.

Bersambung. Soon ya...

Kalimat Sejuk Oleh Nia Kurniati

Kalimat Sejuk Selamat datang wahai hati yang sudah lama tak bertemu Apa kabarmu? Engkau terlihat baik-baik saja Aku baru tahu ...