Fitrah hidup manusia dalam kehidupan seharusnya adalah Belajar. Belajar untuk mendapatkan ilmu agar bermanfaat bagi masa depan kelak. Jika manusia tidak mendapatkan ilmu tentu sangat jelas bahwa tidak mungkin masa depan dapat lebih terjamin. Paling tidak agar bisa membaca beberapa kata, atau memahami ucapan dan perkataan orang lain. Begitulah ilmu secara kegunaannya. Yakni Didapat agar Allah meninggikan derajat orang yang senantiasa menambah dan mengamalkannya.
Namun selain kita belajar, setelah ilmu yang sudah didapat apakah hanya disimpan saja sendirian? Apakah tidak perlu lagi kita mewariskan ilmu kepada generasi setelah kita. Apakah hanya sebatas diri kita yang berhak mendapatkan ilmu?
Jelas tidak. Ilmu berhak pada siapa saja. Jika kita sudah mendapatinya, maka generasi setelah kita juga berhak mendapatkan ilmu juga. Kehidupan jadinya seperti saling bergantung satu sama lain, sebab ilmu sejatinya adalah agar dapat diaplikasikan di dunia yang nyata. Sebab ilmu tidak hadir begitu saja hanya karena orang ingin tahu suatu ilmu, tapi agar dapat dipakai dan diamalkan di kehidupan sebenarnya.
Ini merupakan catatan suatu pendapat pribadi setelah saya menjadi pengajar Anak Usia Dini (AUD). Pertama, saya tidak akan bertutur sangat panjang. Kedua, saya akan berbagi pendapat lebih singkat lagi. Baiklah.
Ilmu itu apa menurutmu?
Ilmu itu tidak hanya tentang kamu tahu jawaban 1 ditambah 1 sama dengan 2. Bukan juga tentang kamu bisa membaca "Ini Rumah Budi". Atau lagi, bukan juga tentang tahu apa itu ABCDEF... dan lain-lainnya. Itu adalah bagian dari ilmu. Tapi ilmu yang sebenarnya adalah yang membuat kamu yakin atas apa yang sudah tercipta di Muka Bumi ini adalah benar bahwa semuanya telah terukur, tertata, terkonsep dari Yang Maha Esa. Allah Ta'ala.
Maksudnya?
Coba saya akan bertanya, sejak kapan 1 ditambah 1 sama dengan 2 ?
Lalu saya akan bertanya, sejak kapan kata "Banyak", "Sedikit", "Luas", "Lebar", "Tinggi", "Hitam", "Putih" dan sebagainya?
Nah, di jaman Nabi Adam as ilmu itu sudah dipakai. Dan ilmu itu yang pertama dikenal ketika itu adalah bagaimana cara memotong sesuatu. Harus menggunakan alat atau benda apakah? karena pada saat itu belum ada pisau dan alat tajam lainnya. Ya, ketika di jamannya Nabi Adam as tersebut, alat pemotong yang digunakan adalah Batu. Itu membuktikan bahwa ilmu telah ada semasa dulu.
Mengapa Manusia Bisa Berilmu?
Ya, karena manusia memiliki akal dan pikiran. Tidak akan suatu hal yang dianggap masalah dapat terpecah jika tidak diatasi dengan ilmu. Dan sebelum ilmu itu dipakai, maka manusia akan berpikir terlebih dahulu. Maa Syaa Allah, Allah Subhanahu Wata'ala telah menciptakan kita begitu sempurna. Karena diberi kelebihan dapat berpikir dan mempunyai akal untuk mengerti dan memahami suatu ilmu.
Apa itu Ilmu ?
Menurut saya, Ilmu adalah suatu pengertian dimana manusia musti menggunakan akal dan pikirannya untuk dapat memahami apa yang dimaksudkan dalam suatu hal tertentu. Pemahaman yang didapatkan itu merupakan pengetahuan. Pengetahuan dapat membentuk karakter manusia. Juga dapat menjadikan manusia berada pada barisan tertentu sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Nah begitulah pendapat saya tentang ilmu.
Bagaimana menurut Anak Usia Dini?
Anak Usia Dini adalah anak-anak yang pada masanya tidak mengerti apa itu masalah apalagi apa itu ilmu. Mereka kenali kata "ilmu" itu ya dengan Bersekolah. Supaya Pintar, itu juga kata mama. Hehe.
Nah tapi, si anak punya pendapat lain tentang kenapa dia bersekolah. Tahu dong pastinya kita. Yups, katanya agar mereka bisa bermain dengan teman-teman. Jadi, makna angka 1, 2, 3 dan seterusnya hanya seperti sebuah kode dalam permainan. Saat anak tahu kode itu dengan baik, maka mereka dapat menyebutkannya dengan sempurna. Dan ketika mereka menguasai angka-angka itu, maka mereka dapat menggunakannya dalam suatu permainan. Misalnya dengan petak umpet. Mereka harus berhitung terlebih dahulu. Jika salah berhitung, yang ada mereka akan ditertawai dan bukan lagi seperti kita yang bisa langsung menghadapinya. Tapi si anak hanya bisa menangis, rasanya seperti di Bully. Begitulah bagi anak. Jadi, mengenal angka 1,2,3 dan seterusnya itu adalah kodenya. Begitu juga pada huruf A, B, C, D....
Menjadi seorang guru Anak Usia Dini adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Kita akan banyak menemukan tingkah anak yang berbeda-beda. Selain lucu dan menggemaskan, kalimat dan bahasa anak terkadang menjadi suatu perhatian para guru. Dan cara bicara anak itu adalah suatu ke khas-an bagaimana seorang guru mengenal tentang anak itu.
Saat kita mengawasi segala gerak gerik anak, menilai segala perkembangannya, dan mengetahui apa suatu permasalahan yang ada padanya, terkadang menjadi cerminan juga pada guru itu sendiri. Oh dia begitu karena orang tuanya yang kasar atau keras. Dan, mungkin saya begini juga karena didikan dari kedua orang tua saya. Itulah keunggulan menjadi seorang guru, kita dapat menilai anak, tapi kita juga dapat berkaca pada diri sendiri juga.
Ilmu yang paling penting setelah saya menjadi seorang guru AUD ternyata bukan soal mengenal angka 1, 2, 3 dan seterusnya. Juga bukan huruf, membaca kata, berdongeng, dan sebaginya. Tetapi yang paling penting itu adalah ilmu mengenai pemahaman agama dan nilai moral. Pintar tidak cukup jika dia tidak beragama, maksudnya jika tidak berakhlak baik. Apa juga artinya berprestasi jika dia tidak memiliki nilai dan moral. Padahal nilai dan moral merupakan suatu hal yang harus ada pada setiap orang. Ini betul-betul menjadi suatu pertimbangan. Makan dari itu, pemahaman agama, nilai dan moral harus diterapkan dan diajarkan sejak dini pada anak. Dan mewariskan ilmu agama, nilai dan moral adalah suatu tantangan terbesar seorang guru. Kenapa? karena sebelum mewariskan kepada anak, maka guru harus lebih dulu mengamalkan nilai dan moral serta memiliki paling tidak pemahaman tentang keagamaan yang mendasar. contohnya, sebelum memberitahu anak dilarang makan sambil berdiri, maka guru harus terlebih dulu taat pada perintah itu. Guru harus sudah terbiasa juga untuk tidak makan sambil berdiri. Dan banyak contoh lainnya.
Maka, ilmu agama adalah suatu indikator terpenting bagi anak yang kadang orang tua melupakan hal tersebut. Bahkan kebanyakan orang tua memporsir anaknya agar menjadi juara kelas, agar pintar tanpa memikirkan bagiamana tentang pekembangan agamanya, bagaimana sikapnya di sekolah. Tentang adab, tentang moral, tentang nilai-nilai. Padahal agama itu memasuki seluruh aspek dalam kehidupan kita. Awan tidak jatuh karena ada yang mengaturnya. Yaitu Allah. Tanaman semua dapat tumbuh itu juga karena Allah yang mengaturnya. Allah Maha Kuasa, sementara kita hanyalah debu di antara rak buku. Kita begitu kecil. Mudah terhempas angin begitu saja.
Ilmu yang paling tepat diterapkan bukan ilmu duniawi saja, tapi harus seimbang juga dengan ilmu akhiratnya. Karena hakikat manusia adalah untuk mati dan hidup. Bukan hidup mati. Mengenalkan pada anak, bahwa setiap apapun yang ada di muka bumi ada yang menciptakannya. Air mengalir, angin berhembus, gunung dapat berdiri tegak sempurna membentuk segi tiga, juga pelangi begitu indah warnanya, ada pula suara-suara hewan yang saling berbeda-beda berikut jenisnya, dan semuanya... ada yang mengaturnya. Ada yang menjaminnya. Maka mewariskan ilmu agama adalah indikator membangun karakter anak dimas depan kelak. Dengan ilmu agama dapat menuntun seseorang ada dalam posisi aman di masa depan. Dan bukan lagi dengan hitungan duniawi. Semoga bermanfaat,
-/-.
No comments:
Post a Comment