Thursday, December 27, 2018

WHY IT HAPPEND : Hikmah di Balik Setiap Bencana



مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬


" Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah "
QS. Al Hadid : 22
Segala sesuatu yang ada dan terjadi di muka bumi ini semua sudah Allah SWT atur lebih dulu di lauh mahfudz. Bencana, kematian, kehilangan, perpisahaan hingga pertemuan semua sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa. Manusia bisa menjaga, namun Allah Maha kuasa. Tidak dapat menawar untuk di majukan atau di mundurkan. Tidak dapat menolak atau menahan, kecuali berpasrah pada-Nya.
Dunia hanya sementara. Manusia dan seluruh makhluk tidak ada yang kekal Abadi kecuali Allah ta'ala. Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya yang tak dapat dihitung oleh jari. Dan segala yang dicipta-Nya akan kembali pada-Nya. Pemilik yang sebenarnya.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُوْنَ
"Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nya kita kembali."
  
Musibah pasti ada. Maka, sepatutnya kita menyadari hakikat diri bahwa kita ada Pemiliknya. Bahwa kita akan kembali pada-Nya. Ber-muhasabah atas segala dosa dan kekhilafan. Sepanjang kita bernafas, tidak mungkin tidak pernah melakukan dosa sama sekali. Karena kita bukan malaikat yang selalu benar dan setia, kita memiliki nafsu yang terkadang membuat kita tenggelam dan hanyut karenanya. 


Why It Happend?

Beberapa hari yang lalu, Indonesia lagi-lagi berduka setelah terjadi lagi bencana Gempa dan Tsunami yang berakibat menewaskan banyak korban jiwa. Dan kali ini terjadi di Tanjung Lesung Banteng dan Lampung. Jika kita sadari, inilah tanda kebesaran Allah. Mampukan manusia yang membuat air naik ke permukaan lalu membuat Tsunami? tidak. Maka, inilah Dia. Ya, Kuasa Allah Ta'ala. 
Allah tidak sembarang menghadirkan suatu bencana kepada kita. Allah juga tidak semata-mata menaikkan air laut ke permukaan atas Izin-Nya hanya sekedar untuk menenggelamkan manusia. Tetapi karena Allah memiliki alasan. Tidak akan suatu perkara terjadi jika tidak ada penyebabnya. Tidak mungkin juga manusia akan belajar jika bukan dari pengalaman. Namun pertanyaannya, apakah manusia sudah tesadar?
Why It Happend? Rasanya sedih setelah banyak melihat kejadian-kejadian di balik Bencana. Bahkan setelah melihat seorang korban yang ditinggalkan sahabat-sahabat dan isterinya sekaligus di hari yang sama. Musibah yang tidak pernah di nanti. Musibah yang tidak pernah di tunggu. Terjadi begitu saja. Begitu tiba-tiba.
Perasaan itu benar tidak dapat di gambarkan begitu saja lewat sebuah tulisan. Kadang tidak dapat langsung terungkap jelas oleh kata-kata. Cukup pribadi yang dapat merasakan sebegitu detail-nya. Kita yang hanya menyaksikan hanya dapat merasakan sebagian rasa sedih dan simpati terhadap korban bencana. Begitu cepat musibah datang dengan tanpa mengucap salam atau memberi pertanda. Tidak ada yang tidak mungkin pada Allah SWT. Allahu Akbar.
Musibah merupakan suatu hal yang tidak diinginkan setiap orang. Tidak ada satu orang pun yang ingin merasakan penderitaan mengalami musibah dan berlarut-larut di dalam kesedihan. Kehidupan yang di harapkan malah tidak seperti yang dibayangkan. Padahal, tetiap manusia pasti ingin merasa aman dan terhindar dari segala marabahaya. Namun, segala apa yang terjadi tetap misteri dan hanya Allah yang Maha Mengetahui.
Tidak dipungkiri, musibah dan bencana akan selalu menyisakan kesedihan dan kepedihan. Betapa tidak, sekian orang yang dicinta kini telah tiada. Harta benda musnah tak tersisa. Segala harapan sekejap harus musnah begitu saja. Sejumlah rencana harus pupus tak lagi berguna.


Hikmah di Balik Musibah Bencana

Selama ini kita merasa sudah benar. Benar dalam segala hal. Bisa jadi pula, kita merasa tidak ada apa-apa dengan segala perbuatan yang kita lakukan. Tanpa menimbang kembali apakah itu benar ataukah salah.  Ataukah mungkin iya salah, namun kita terlambat dalam menyadari dan berubah. Rupanya kita banyak melakukan kesalahan. Terkadang kita lupa bahwa kita akan mati. Juga, terkadang kita hanya sekedar meyakini bahwa kita tidak memiliki dosa se-berat dosa yang dimiliki orang lain. Padahal, bisa saja dosa kita malah jauh lebih banyak dari orang lain yang dituju.
Barangkali kita hanya bisa menyalahkan banyak orang tanpa berkaca ke dalam diri. Bisa pula karena kita terlalu meremehkan orang lain, padahal kita pun tidak memiliki banyak kelebihan. Mungkin juga kita terlalu sombong dan angkuh tinggal di dunia yang fana ini. Atau mungkin karena kita yang hanya tahu syariat, namun enggan mengikutinya. Serta, mungkin karena kita kurang perduli dengan adanya hukuman terhadap kesalahan yang dilakukan, sehingga kita sering menunda-nunda dalam melakukan kebaikan. Ya, bisa saja. Astaghfirullahaladziim.
Musibah adalah peringatan. Peringatan untuk sadar dan bergegas dalam melakukan kebaikan. Bertaubat dari segala keburukan dan kemunkaran. Karena, musibah adalah pengingat bagi setiap yang berpikir. Dan jangan menganggap kita akan aman. Karena Allah selalu ada mengikuti kita. Semua apa yang dilakukan, Allah melihanya. 
Hikmahnya adalah untuk kembali mengingatkan diri agar terus mengingat Allah, agar semakin meningkatkan keimanan dan kecintaan kepada Allah. Ber-Istirja' pada Allah, bahwa kita adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. 

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” 
(Al-Hadid: 22-23)

Bersabar dalam Menerima Cobaan

Bersabar dalam menghadapi segala ketetapan Allah. Kehilangan anggota keluarga ataupun sahabat merupakan suatu kepedihan yang mendalam. Betapa Allah memiliki cara tersendiri bagaimana mengangkat derajat seorang hamba. Akan tetapi setiap ujian tidak melulu karena Allah akan meninggikan derajat suatu hamba, namun bisa jadi juga datang sebagai suatu hukuman atas segala dosa. Ber-istighfar dan bersabar dalam menghadapi segala ujian. Allah Maha Penyayang. Apapun yang terjadi jelas karena Allah begitu menyayangi hambanya.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” 
(Az-Zumar: 10)

 Selain itu, Allah juga berfirman dalam surat di bawah ini: 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا


 Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)


Kematian Itu Pasti

Semua yang diciptakan Allah tidaklah sia-sia, mengandung maksud dan tujuan, bahkan kematian. Kematian manusia hanyalah sebuah bentuk proses peralihan alam, di mana manusia masih akan tetap ada namun pada tingkatan alam yang berbeda.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada kami kamu dikembalikan”. (QS. Al Ankabut: 57)

Kematian adalah suatu kepastian yang akan  dialami oleh setiap orang. Kematian merupakan proses kembalinya kita kepada sang pemilik sebenarnya. 
Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” Qs. An-Nur: 42, dan Qs. Fathir [35]: 18

Semoga dari setiap bencana kita dapat semakin belajar hakikat kehidupan sebenarnya. Bahwa sebaik-baik penghidupan adalah yang terukur jelas kemana arah tujuannya (Allah Ta'ala). Dan sebaik-baik waktu adalah yang bisa memanfaatkannya. Memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal berpulang kepada-Nya. Bukan sekedar bersyahadat, namun juga berusaha taat menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya.



-/-


Kutipan Ayat :
hidayahtamah.blogspot.com
www.darut-taqrib.org

No comments:

Post a Comment

Kalimat Sejuk Oleh Nia Kurniati

Kalimat Sejuk Selamat datang wahai hati yang sudah lama tak bertemu Apa kabarmu? Engkau terlihat baik-baik saja Aku baru tahu ...