Sunday, July 22, 2018

ART OF DAKWAH : Ketika Netizen mengomentari Dakwah Seorang Ustadz Melalui Media Internet

Bismillah.
       
    Berbicara mengenai media internet, media sosial, atau media maya tentu sepenuhnya sudah kita sadari bahwa ini merupakan suatu tempat yang luas untuk mencari dan mendapatkan pengetahuan atau informasi. Bahkan kini, orang lain lebih malas membaca buku ketimbang seraching, browsing dan etc. di media internet ini. Selain untuk mencari informasi juga, terdapat  media sosial sebagai sarana  berekspresi. Baik itu menumpahkan segala emosi, maupun ingin berbagi suatu kebahagian serta posting perihal kebaikan (berdakwah).
    Sebetulnya terdapat beberapa resiko seseorang menggunakan media internet, dan media sosial terutama. Mengapa? karena ada dua sisi disini yang bermain. Sisi pertama adalah Golongan Pro, dan sisi kedua adalah Golongan yang Kontra. Ya, Pro dan Kontra, katakanlah golongan suka dan tidak. Ini ternyata bukan hanya ada di lingkungan sosial bermasyarakat nyata saja, namun juga ada pada media yang luas ini. Maka, tentu ini pun merupakan suatu hal yang serius. Dibutuhkan kewaspadaan dan kehati-hatian dalam menggunakan suatu media internet ini. 
      Kali ini saya akan bicara mengenai seni dalam berdakwah (Art Of Dakwah).Berdakwah tentu di butuhkan ilmu, karena yang akan mendengar dakwah itu sendiri pun sendirinya memerlukan ilmu,  maka dari itu mereka mencari suatu ilmu tersebut. Akan menjadi terasa kurang jika kita berdakwah namun tidak didasarkan ilmu. Jika tidak anda akan mendapat kritikan.
      Beberapa hari terakhir ini sedang viral salah satu ustad di Bandung yang akhirnya di kritik karena cara beliau menyampaikan dakwahnya. Tentu ini masuk ke ranah Seni dalam Berdakwah yah. Menyinggung hal itu, sebelum maju ke arah itu kembalikan dulu hati kita kepada Allah. Bahwa Allah lah Dzat Yang Maha Sempurna. Segala kesempurnaan hanyalah milik Allah. Hati kita serahkan dulu pada-Nya, Allah ta'ala. Maka, bicara soal ini dibutuhkan iman. 
    Saya tidak akan dulu bicara bagaimana detik Ustadz tersebut berdakwah yang mendatangkan komentar pedas dari si golongan kontra itu. Saya akan kembali lagi pada seni dalam berdakwah itu sendiri. Apakah kalian sudah paham bagaimana itu berdakwah, tentu ada seninya. Setiap ulama, asatiz/ ustad memiliki gaya dalam menyampaikan materi dakwah. Tidak bisa sama, karena karekter manusia pun berbeda-beda. Tingkat kepahaman orang juga berbeda-beda ya kan. Misal, kita mengikuti kajian ustadz A misalnya, lalu kita mendapati kenyamanan disana mendapatkan ilmunya. Kita mudah mengerti dan langsung klik hidayah, next hijrah. Berarti cocok kan. Berbeda jika mengikuti suatu kajian, misal dia ustadz B. Karena kita terbiasa mendengar dengan jelas, atau tanpa kata-kata yang berbau diksi maka kita sulit mencerna isi materi.  Ya tapi itu adalah seni atau gaya nya ustadz tersebut, maka tidak bisa kita katakan itu suatu hal yang salah. Sebelum begitu, lihat bagaimana jamaahnya. Jika banyak hidayah yang datang saat mengikuti kajian ustadz B pada banyak orang, berarti itu ada yang salah dengan penilaian kita saat mengatakan ustad itu salah. Padahal setiap ustadz juga memberi kelonggaran kepada jamaah agar bebas memilih guru agamanya. 
"Jika memang bagi antum ustad ini salah, tidak sepaham dengan saya, tidak sepemikiran maka silahkan tinggalkan. Ambil yang baiknya, yang buruknya tinggalkan." Ust. Adi Hidayat Lc. Ma
    Saya mendengar kalimat itu pada kajian ustadz Adi Hidayat Lc, Ma. Berarti ini mengungkapkan bahwa sebenarnya para ustadz saja memberi kelonggaran, kebebasan pada kita memilih pada siapa kita mau mencari ilmu. Lagi pula, ustadz yang di komentari pedas tersebut sudah mengakui telah salah memilih diksi dan sudah meminta maaf. Maka sebaik-baik manusia adalah bisa memaafkan kesalahan orang lain. Meskipun begitu, sudah banyak kok dampak posittif dari kajian yang dibawakan ustadz tersebut. Bagaimana tidak, bayangkan kehadirannya dapat mengubah Lapangan Gasibu menjadi tempat ratusan manusia berjamaah sujud kepada Allah swt. Itu indah sekali. Apa ada iman? ya, karena ikut kajian beliau bukan untuk gaya-gayaan, ya meski pasti ada juga beberapa. InsyaAllah karena ada tujuan, yaitu mengejar ilmu Akhirat. Belajar sedikit-sedikit bagamana menjadi hamba yang baik pada-Nya Allah swt.
      Mengomentari juga itu bebas mau seperti apa. Namun ada baiknya dengan adab. Jika disampaikan baik-baik InsyaAllah akan tersampaikan maksud dan tujuan. Jika tidak maka sebelah mata yang akan menilainya. Maka, diperlukan iman juga dalam hal ini. Bagaimana baiknya dalam mengomentari, dalam mengkritiik. Antara syubhat atau fanatik, baiknya kembali lagi ke tujuan semula. Jika kita benar mau mencari ilmu akhirat, carilah. Masih banyak ustadz dan ulama di Indonesia. Apalagi akan sangat sedih jika, sesama muslim beradu opini mengenai hal ini sehingga menimbulkan perpecahan. Naudzubillah. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati manusia. Tidak ada unsur kesengajaan, insyaAllah. Semua muslim bersaudara, saling maaf memaafkan terasa indah. Jika ini cinta pada Allah, maka bersatulah. 


Alhamdulillah. Mohon maaf apabila ada kesalahan. Disini dalam beropini kita musti bersikap netral terlebih dahulu. Jazakumullahu khairan katsiro. 
Yaa Muqollibal quluub tsabbitqalbi ala diinik.

---

No comments:

Post a Comment

Kalimat Sejuk Oleh Nia Kurniati

Kalimat Sejuk Selamat datang wahai hati yang sudah lama tak bertemu Apa kabarmu? Engkau terlihat baik-baik saja Aku baru tahu ...