Monday, July 2, 2018

Kisah Seekor keledai dengan seorang anak dan ayahnya

Kisah  Seekor Keledai Dengan Seorang Anak dan Ayahnya

Oleh. Nia Kurniati

 

Nah lho.. siapa yang suka ngomongin orang... ?

Udah biasa sih buat manusia nge-ghibah atau ngomongin kejelekan orang. Tapi, Pertanyaannya apa yang akan kamu lakukan jika kamu ada pada posisi orang yang di- ghibah-in. Nah, sebelum ke inti, yuk lihat dulu video kisah Seekor keledai dengan seorang anak dan ayahnya.

 

  Kalau nggak, cari sendiri ya di youtube udah banyak kisahnya, banyak versinya.

Yaps, sudah dilihat kan video-nya. Ini adalah versi dongeng untuk anak secara global ya. Padahal ternyata, kisah ini di ambil dari kisah islami, tentang seorang manusia biasa, hamba Allah yang bukan golongan Nabi dan Rasul, tapi mereka sudah hidup di jaman nabi serta kisahnya ini sudah mahsyur (populer) dan ternyata seorang ayah yang disebutkan pada cerita itu sudah Allah abadikan dalam Al-Qur'an. Maa Sya Allah. Ya, beberapa ulama ada yang mengatakan dia adalah Luqman Al Hakim, adapula yang mengatakan itu adalah Luqman bin Sarad. Namun dari beberapa pendapat para ulama, lebih dari itu Allah azza wa Jalla telah mengangkat Luqman Al Hakim dengan hikmahnya. Maka disebutlah ia sebagai Ahlul Hikmah. Nah, yuk kita perhatikan firman Allah di bawah ini yang artinya;

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, :wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah , sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. QS. Luqman: 13

Pantas saja teman, ingat saya waktu jaman kuliah dulu yang mengharuskan terus setoran juz Al-Qur'an dan surat-surat pilihan terdapat pula anjuran bagi kita untuk mengajarkan firman ini pada anak-anak. Jelasnya kira-kira sampai ayat 17. Ya begitulah. Seorang ayah pun bahkan berusaha mendidik anaknya agar mulai tidak mendengarkan apa kata orang lain.

Maka, sekalipun kita sudah sadar dan tahu bagaimana perilaku manusia pada umumnya, termasuk suka meng-ghibah, pada kenyataannya kita sebagai manusia harus menerimanya sebagai hikmah. Mengambilnya sebagai bahan untuk instrospeksi diri, muhasabah diri. Pada kisah ini, di akhir cerita pun pada akhirnya ayah si anak tersebut menyadari bahwa buat apa kita mendengarkan pembicaraan orang lain. Yang padahal apabila kita terus mendengar omongan dan perkataan mereka itu malah memberikan kerugian (keburukan) buat kita. Dalam kisah pada video di atas akhirnya keledai itu jatuh ke dalam sungai. 

Lelah rasanya jika terlalu cinta pada dunia. Mengejar segala aktifitas dunia hingga kita berusaha mendapat sekawanan untuk di ajak meng-ghibah aib orang lain. Rasanya meng-ghibah itu seperti termasuk bumbu yang pasti ada dan dimasukan ke dalam suatu makanan, arti lainnya pasti ada dalam kehidupan.

Teman, baik buruknya seseorang itu biar Allah Yang Maha Tahu. Kita tidak perlu so meng-hujat atau memperbesar-besarkan. Karena pada hakikatnya manusia adalah tempatnya salah dan dosa, sementara Allah Yang Maha Agung lah yang Maha Benar dan Maha Sempurna. Ya, kesempurnaan milik Allah.

Bayangkan setiap hari kita berangkat bekerja ke kantor, ke pasar, atau masih dalam keadaan bersekolah yang mengharuskan kita berangkat ke sekolah, lalu hadirlah sosok-sosok si penggunjing, peng-ghibah yang mereka pada dasarnya mempunyai alasan mengapa menjelekkan kita, membuka aib kita ke banyak teman dan orang lain jika tidak adanya kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial kaya gimana sih? yaps, seperti iri, dengki, syirik, ah pokonya berawal karena ketidak-sukaannya kepada kita. Coba hitung setiap hari di gunjing orang, meskipun dada kita sakit, telinga kita kebisingan, rasa-rasa mau nangis atau bahkan sampailah kita menangis, tenang teman disitulah setiap harinya pahala mereka yang menggunjing berpindah kepada kita. Jawaban yang dibutuhkan pada pertanyaan paling atas itu bagi kita adalah IKHLAS dan SABAR

Jika bukan Allah yang mengatur segala Qadha dan Qadhar, membuat kita merasakan pahit manisnya bersosial semua itu karena Allah akan meninggikan derajat manusia, terutama yang Ikhlas dan Bersabar. Padahal jika kita menyadari pada urat nadi setiap manusia, pada darah yang mengalir dalam jiwanya disitulah tempat dosa-dosa yang bersemayam, membeku dan mengalir. Cukup bagi seseorang yang tidak punya 'Ain dalam dirinya. Maka hatinya, darahnya tidak akan kotor terkena tinta maksiat, diantaranya meng-ghibah. Naudzubillah.

Yuk teman, biarkanlah angin kencang lewat depan rumah kita. Sampai mereka letih untuk berkata. Siapalah diri, jika diri hanyalah milik Allah, akan kembali pada Allah. Akan diperhitungkan segala amalan dan perbuatan. Untuk apa saling membuka aib, jika tak mau bercermin pun kita sudah sadari bahwa diri sendiri pun punya aib. 

Semoga tulisan ini menggugah kita, ada kalanya keburukan orang yang kita tahu biarlah kita simpan dalam diri, bukan malah memperbesar-besarkan keburukan orang lain yang malah mendatangkan dosa baru hingga meluas jadinya. Biarkan Allah dan dia yang tahu. Biar Allah saja yang atur keburukan seseorang itu, apakah akan diberi hidayah atau tidak. Cukup kita  mendoakan kebaikan. Jika tidak bisa mendoakan cukup dengan diam. Berhusnudzan pada Allah swt, dan berhusnudzanlah pada setiap manusia. Alhamdulillah.

Barakallah. Semoga tulisannya bermanfaat, amiinn ya ukhti dan akhi semua. 

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarakatuh.

Par 2. Kutip. diary hikmah, 2018

                 

No comments:

Post a Comment

Kalimat Sejuk Oleh Nia Kurniati

Kalimat Sejuk Selamat datang wahai hati yang sudah lama tak bertemu Apa kabarmu? Engkau terlihat baik-baik saja Aku baru tahu ...