Sombong dan Riya Dalam Beribadah
Oleh. Nia Kurniati
Pada suatu hari, di ruang kelas TK A berukuran kira-kira 5m x 5m di Sekolah PAUD Hikmah.
"ini masih jam berapa Jab..?" tanya Rayhan pada Rajab.
"masih jam 7 lah!, kayanya!" jawab rajab polos banget.
Iya, jadi ini masih Pukul 07.15. Berarti sekitar 15 menit lagi kami semua masuk kelas. Beberapa suara teriak anak-anak di lapangan masih terdengar. "aaaaakkkkkkkk!", "tidaakkkkk.. jangan ih kamu teh jangan gitu!" terdengar suara teriak ala-ala drama series anak cilik. Hhhhi.
Treng..trengg..trengg!
Lonceng berbunyi tanda waktu belajar dan bermain akan segera di mulai. Bu Nia langsung lari memanggil anak-anak di kelas untuk keluar berbaris di halaman. Lalu berbarislah anak-anak dan ibu guru serta teman-teman dengan khidmat. Hmm, seperti biasa begitu suasa berbaris anak paud. Meriah sekali. Lalu, setelah 5 menit berbaris, lalu masuklah semua guru dan anak-anak menuju kelas masing-masing.
Suasana masuk kelas masih tetap sama dengan RKH (Rencana Kegiatan Harian) untuk pembuka kelas, Suasana anak-anak menyanyikan lagu Good Morning Everyone!, bershalawat, mengagungkan asmaul husna, dzikir pagi bersama, hingga melantunkan beberapa surat hafalan anak-anak. Maa Sya Allah. Indahnya sebuah pengabdian.
Namun waktu sekarang sudah berjalan hampir 45 menit, waktunya pengajaran ke inti.
"Anak-anak, ibu nia mau bercerita nihh. Coba tebak bu nia mau cerita tentang apa coba...!" kata bu nia menyeru pada semua anak-anak di kelas.
Lalu anak-anak menjawab dengan teriakan seperti khas-nya anak tk kelas A.
"Ibu aku tau,!" seseorang mengacung. Oh itu Dena si imut. "Ibu mau cerita si kancil dan anak nakal kan!" katanya.
Bu nia langsung tertawa so manis gitu, "ah!?.. hhahaha". Lalu anak-anak lain pun ikut menertawakan ucapan Dena. "ahahahaha hahaha!" tertawalah anak-anak yang lain.
"Dena, ih kamu mah suka bilang cerita Si Kancil sama Anak Nakal terus ih. !" ujar Baim agak ngenes. Ya sih, itulah yang membuat lucu. Setaip Ibu nia mau bercerita, Dena selalu mulai berprediksi, dan lagi-lagi prediksi Dena bercerita tentang Si Kancil dan Anak Nakal. Bu nia dan anak-anak lainnya sudah mengira ah mungkin Dena menyukai cerita itu.
"ya biarin atuh,!" balas Dena sewot. "Kamu mah suka nakal gitu..!" polosnya dena menyambungkan.
Baiklah semua sudah saling tertawa, riang dan gembira. Semua anak sudah bersiap, ibu nia mulai menarik nafas. Hhuft!
"seperti biasa yah, bu nia akan bercerita sampai beres. Teman-teman semua mendengarkan dulu sampai beres yah... habis itu kalau cerita bu nia sudah selesai baru teman-teman boleh bertanya, boleh ngasih pendapat soal cerita ibu nia. iya siap?" seru bu nia
"Siapppp.....!!!" jawab anak-anak berbarengan.
Bu nia kemudian memulai ceritanya.
"Ini cerita tentang seorang kakak laki-laki, umurnya kira-kira masih 7 tahun. Dia seorang kakak yang Sholeh sekali nih teman-teman. Namanya Rayyan. Biasa orang memanggilnya Kak Ray. Dia anak yang cerdas, pintar dan seorang pekerja keras meski pun dia masih berumur 7 tahun. Di umurnya yang masih 7 tahun, ray sudah pandai berdagang. Dia menjual macam-macam gorengan. Nahh, biasanya ibu-ibu kan yang jualan gorengan. Ini malah rayyan, ya seorang anak laki-laki. Tapi ibunya yang membuat gorengan itu, namun karena ibunya yang sakit-sakitan, terpaksa rayyan jadinya yang menjualkan semua gorengan buatan ibunya itu sambil keliling desa dan perkampungan terdekat. Wah hebat yah.. rajin dia..
Dengan penuh kesabaran, sehabis pulang sekolah rayyan berjualan keliling desa. Semua orang mengacungkan jempol buat rayyan. Terdengar "Rayyan kamu anak manis, baik hati juga!" seorang ibu pembeli gorengan berkata begitu. Rayyan semakin bersemangat berjualan. Semakin hari, setiap hari terus begitu sepulang sekolah. Kalau sudah habis barang dagangannya - gorengannya, rayyan akan pulang lagi ke rumah, jika masih ada gorengan di rumah, rayyan akan berangkat lagi menjual gorengannya hingga sore. Waduhh.. hebat yah teman-teman.
Lalu seorang teman sekolahnya bernama Ilham tiba-tiba ngatain miskin sama rayyan sewaktu di sekolah. Saat itu rayyan sedang sekolah. "rayyan kamu suka jualan gorengan. kamu miskin yah! hahaha!" begitu suara temannya berkata. Aduhh kasihan yang rayyan yang sholeh dan baik hati suka menolong ibu malah di katain temannya di sekolah. Ya meskipun memang rayyan orang miskin. Baiknya kita tidak boleh menghina, iya yah teman?. Mendengar perkataan ilham, rayyan cuman berkata "ya saya memang miskin ilham, kamu benar! saya tidak punya apa-apa!" jawab rayyan. Sedih ya rayyan bilang gitu teman.
Ah, kemudian Rayyan tumbuh menjadi orang dewasa. Umurnya saat itu adalah sekitar 20 tahun. Rayyan walaupun tidak sekolah tahfidz Qur'an, ternyata rayyan berhasil meng-hafidzkan 10 juz Al-Qur'an sendiri di rumah. Ya dibantu dengan ustadz di pengajian dekat rumahnya. Wahhh Maa Sya Allah ya teman-teman. Teman-teman mau kan jadi hafidz Qur'an..! (anak-anak menjawab serntak, mau...!). Tapi, ilham juga sama jadi orang dewasa. Umurnya berarti sama dengan Rayyan saat itu, 20 tahun. Hmm... Ilham mengetahui kabar dari orang lain katanya bahwa rayyan sudah hafidz beberapa juz Al-Qu'an. Ilham tidak percaya, tidak mungkin katanya.
Kemudian Ilham tidak mau kalah saing dengan Rayyan. Ilham selalu saja iri pada Rayyan, karena sejak kecil rayyan selalu di beri pujian sama orang lain, sama tetangga di rumahnya, sama guru-guru di sekolah. Ah pokonya Ilham benar-benar ngambek. Ilham lalu ikutan sekolah Tahfidz, niatnya karena ingin menjadi hafidz Qur'an juga seperti rayyan. Lalu Hafidzlah Ilham juga. Ilham hafidz Qur'an 15 juz, melebihi jumlah hafalan juz-nya rayyan. Wah, kemudian Ilham masuk Tv, terkenal dan populer. Sementara Rayyan masih biasa saja, seorang hafidz biasa/ tidak terkenal.
Suatu waktu, Rayyan pergi ke warung dekat rumahnya. Saat sudah besar rayyan sudah tidak berjualan lagi gorengan yah. Tapi saat itu dia benar-benar hanya anak kuliahan biasa, yang baru mendapatkan beasiswa masuk sekolah tinggi negeri. Wahh hebat yah teman. Ya, karena memang Rayyan anak yang pintar sejak kecil. Lalu, rayyan mendengar selintingan dua orang ibu yang sedang membicarakan ilham, "ilham sekarang sombong yah. Dulu dia anak ingusan!" (anak-anak di kelas tertawa mendengar ingusan. Hhha dasar). Ibu-ibu itu juga menilai Ilham jadi seperti berlebihan dalam ibadah, sombong. Dan suka menyombongkan dirinya kalau sedang berkumpul bersama teman-teman kecilnya dirumah. Berarti teman-teman ilham yang berkata ilham sudah sombong dan sering riya yah. Hmm.. Lalu semua orang tidak menyukai Ilham. Tapi berbeda dengan rayyan, dia tidak terkenal tapi dia banyak di sanjung teman. Hingga pada akhirnya dia mendapat beasiswa S2 di sekolah tinggi di Cairo mesir berkat dia sudah Hafidz Qur'an. Bahkan sudah sampai kholas(selesai) semua juz Al-Qur'an, ya! 30 Juz. Maa sya Allah. ternyata Rayyan diam-diam berhasil dan sukses yah. Ceritanya selesai.
Nahh... jadi gimana menurut kalian teman-teman. Siapa yang mau ngasih pendapat soal cerita ibu nia?"Kemudian seorang anak menjawab,
"bu aku suka sama rayyan, dia nggal sombong yah!", kata Baim lagi.
"Bu nia, aku mau jadi hafidz tapi nggak mau kayak ilham suka sombong!" tambah Rani.
"Bu nia, aku tau kalo orang sombong sama riya suka banyak dijauhin sama temennya.!" tutur Dena
"Bu nia, riya itu apa?" ujar syaikh bertanya. Ternyata ada yang belum tahu apa itu Riya. Padahal sudah pernah dijelaskan loh. Begitu menurut bu nia pikirnya dalam hati.Bu nia lanjut menjelaskan Riya itu apa. Dan anak-anak kembali hening ingin memerhatikan.
"Riya itu adalah selalu ingin memperlihatkan amal kebaikan/kebaikan yang kita lakukan sama orang, supaya kita dapetin pujian dari orang lain. Biar bisa dikenal, dihormatin, dihargai dan lain-lain. Seperti itu anak-anak" Jawab Bu Nia.
"Nah, Allah lebih menyukai seorang hamba ciptaan Allah (kita itu hamba yah teman-teman, orang yang diciptakan Allah) yang tidak suka riya. Yang tidak Riya kalo kita rajin solat di umbar ke orang lain, kalau kita sering ngaji, dilihatin ke orang lain sambil menyombongkan diri, kalau kita hafidz, di perlihatkan kepada orang lain. Masih mending kalau kita hafidz tapi kita seorang hafidz yang terkenal. Dan pekerjaan kita adalah membacakan ayat Al-Qur'an, itu bukan riya jadinya. Nah. teman-teman, jadilah anak-anak yang soleh. Tidak suka riya dan sombong. Kalau kita punya niat baik mengamalkan kebaikan niatnya tidak boleh karena ingin mendapat pujian dari orang lain. Tapi niatkan untuk ibadah, ini ibadah, dan ini untuk Allah subhanahu wa ta'ala. Alhamdulillah."Semua anak akhirnya mengerti sambil beberapa yang masih melongo, dan lainnya mengangguk dan bergumam.
No comments:
Post a Comment